Berita Kampus

August 23, 2017

PERSIDANGAN: Dra. Rahayu Puji Astuti, M.Pd saat mempresentasikan hasil penelitian di ujian terbuka Doktor.

Surabaya- Anak Bekebutuhan Khusus (ABK) tidak boleh diabaikan, mereka harus mendapat perhatian lebih dibanding anak yang lain. Nah, dengan memakai dasar tersebut  Dra. Rahayu Pujiastuti, M.Pd, dosen Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya mengangkat fenomena ini dalam penelitian disertasinya. Penelitian yang dilakukan juga berhasil mengantarkannya menjadi Doktor Tunarungu pertama.

Penelitian yang berjudul Perkembangan Tuturan Bahasa Indonesia Anak Tunarungu berhasil dipertahankan di depan dewan penguji di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Dalam sidang akhir tersebut Rahayu meraih nilai sangat memuaskan.

Rahayu mengatakan, penelitian psikolinguistik yang dia lakukan terkait dengan perkembangan mental anak yang berguna pada saat ABK menghasilkan suatu bahasa. "Di Indonesia penelitian tentang anak tunarungu masih sangat jarang. Hal itu dibuktikan dengan literatur dan jurnal-jurnal yang memuat penelitian tunarungu masih sulit ditemukan. Referensinya juga masih sangat kurang sehingga perlu mengambil referensi barat,"terangnya.  

Dalam konsep tuturan tunarungu ada empat komponen yakni fonologis (bunyi), morfologis (bentuk kata), sintaktis (kalimat), dan semantis (makna),"kata dosen Unipa Surabaya tersebut. "Saya melakukan penelitian secara longitudinal dengan 3 subjek penelitian anak tunarungu berusia 5 tahun, data diambil selama 7,5 bulan di TK LB (B) Karya Mulya.

Rahayu menambahkan dia mengambil anak tunarungu dengan kriteria sedang, ringan, dan berat. Sementara kriteria sangat ringan dan total tidak dilakukan karena tunarungu sangat ringan mereka seperti anak normal sedang tunarungu total atau parah akan sangat sulit diambil datanya.

Menariknya penelitian ini, terlihat dari temuan yang diperoleh yaitu adanya keterlambatan perkembangan kognitif selama 4 tahun antara anak yang dapat mendengar dengan anak tunarungu, hal ini dapat dibuktikan melalui perkembangan fonologis, morfologis, sintaktis, dan semantis yang semua mengarah pada keterlambatan dibanding anak yang dapat mendengar, mengingat mereka miskin bahasa, "terangnya.

Rahayu menghimbau, orang-orang yang memiliki kepentingan di kurikulum anak tunarungu, mereka harus mengetahui bahwa karakteristik anak tunarungu berbeda dengan anak yang bisa mendengar. Oleh karena itu, tidak boleh disamakan sehingga kompetensi dasar yang terkait dengan pengembangan bahan ajar juga harus dibedakan. Para guru jangan berorientasi pada anak yang dapat mendengar saja tetapi juga harus melihat siswa yang berkemampuan khusus. Orang tua juga harus memberikan kontribusi pada pendidikan anak.

Rahayu juga berpesan agar para orang tua tidak malu jika memiliki anak berkemampuan khusus karena meskipun terlambat namun apabila diberikan pajanan atau eksposure masukan dari luar   mereka masih bisa berkembang seperti tak ubahnya anak normal hanya waktunya saja yang berbeda.

"Anak tunarungu sulit membunyikan bunyi-bunyi kontoid nasal seperti, m, n, ng, nye karena anak tunarungu berorientasi pada membaca bibir dan mulut. Sementara bunyi-bunyi nasal m, n, ng, nye merupakan bunyi rongga hidung sehingga sulit dilihat oleh anak tunarungu sehingga anak tunarungu cenderung menghasilkan bunyi oral. Perlu ketelatenan menghadapi mereka karena kecenderungan tertutup sehingga perlu ada pancingan yang lain,"tambahnya. (*)



Connect with us:


Copyright © 2020 by Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Seluruh Isi Web Dilindungi Hak Cipta.

  • Pmb Adi Buana
  • Promosi