
SELESAI WORKSHOP: Syamsul Arifin (empat dari kanan) direktur P3AI ITS didampingi oleh Hartono Warek I, Rufi’i dan segenap panitia workshop kurikulum berbasis KKNI Unipa Surabaya.
SURABAYA- Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya akan segera memberlakukan Kurikulum Pendidikan Tinggi sesuai KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia). Pemberlakuan tersebut telah sesuai dengan Kompetensi Lulusan dan Kompetensi Kerja yang telah diatur dalam UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan PERMENDIKBUD No. 49 tentang SNPT Tahun 2014 yang menjelaskan tentang standar kompetensi atau capaian pembelajaran. Dalam Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012, Tentang KKNI juga menjelaskan tentang kualifikasi pekerjaan yang mengacu pada kualifikasi kerja dalam 9 jenjang. Untuk itu, standart kompetensi lulusan perguruan tinggi tersebut terdapat standart kompetensi kerja. Hal tersebut diungkapkan Syamsul Arifin Direktur P3AI ITS Surabaya yang menjadi narasumber dalam workshop tersebut. (1/7).
Pemberlakuan kurikulum KKNI tersebut akan terealisasi untuk angkatan 2014. Saat ini sedang dalam proses persiapan untuk seluruh Prodi yang ada di Unipa Surabaya. Keterbatasan sumber daya manusia akan menjadi kendala yang pasti karena membutuhkan satu pemikiran yang serius. Untuk itu, akan ada tindak lanjut untuk pertemuan ini. “Terang, Hartono Warek I Unipa Surabaya.
Sri Rahayu Kaprodi Matematika mengatakan, banyak hal yang harus ditinjau ulang untuk diubah agar sesuai dengan kurikulum tersebut, itulah yang membuat penyakit galau tersebut muncul dikalangan kepala program studi. Sampai saat ini, SKS dan MKU belum diputuskan. Nah di Unipa sendiri, adalah 3 sedangkan jumlah SKS sebelumnya adalah 146 sedang di kurikulum berbasis KKNI tadi telah disepakati 144 jadi sama dengan perguruan tinggi lain. Dari permasalahan tersebut artinya ada mata kuliah yang harus dikurangi jumlah SKSnya. Sebenarnya, ini tak jauh beda dengan yang sebelumnya di terapkan, sekitar 75% yang hampir sama dan 25 % harus disesuaikan.
Dalam kurikulum ini lebih fleksibel dan menarik sebenarnya karena kemampuan tidak harus tercermin di salah satu mata kuliah umum tetapi harus melesat di semua mata kuliah dan ini yang sulit dan perlu adanya SDM yang mumpuni. Hal ini dimaksudkan agar mata kuliah di perguruan tinggi itu sama sehingga kompetensi kelulusannya pun juga sama.”tambah Sri Rahayu. (rohma)