
SURABAYA — Perguruan tinggi tidak lagi hanya menyoal ruang kelas dan publikasi akademik. Di Surabaya, Jawa Timur, Universitas Adi Buana (UAB) mengambil langkah konkret untuk membuktikan bahwa kehadiran institusi pendidikan harus berdampak langsung ke masyarakat desa.
Komitmen ini diwujudkan melalui keterlibatan masif sivitas akademika UAB dalam tradisi tahunan Ruwat Desa Dukuh Menanggal 2026. Ratusan elemen kampus—mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga unit layanan kesehatan Klinik Usada Buana—diterjunkan langsung ke tengah-tengah warga untuk menyukseskan gelaran budaya tersebut.
Rektor Universitas Adi Buana, Dr. Untung Lasiono, S.E., M.Si., menegaskan bahwa langkah ini adalah implementasi nyata dari pengabdian masyarakat."Universitas Adi Buana berada di wilayah Dukuh Menanggal sehingga kami merasa menjadi bagian dari masyarakat di sini. Kehadiran sivitas akademika dalam kegiatan budaya seperti ini menjadi salah satu cara membangun kebersamaan," tegas Untung.
Dampak yang diberikan UAB tidak berhenti pada keramaian kirab budaya. Kampus ini mengambil peran sentral dalam memeriahkan malam puncak perayaan. Para akademisi dan staf UAB menanggalkan atribut formal mereka untuk menyajikan pertunjukan seni tradisional yang menghibur warga. Beberapa kontribusi seni yang ditampilkan meliputi Alunan Gamelan yang dimainkan langsung oleh staf dan dosen, Tembang Jawa klasik sebagai bentuk apresiasi warisan leluhur, Penampilan Sinden yang memukau masyarakat setempat.
Puncak dedikasi UAB semakin nyata saat pagelaran wayang kulit semalam suntuk dimulai. Sang dalang yang memimpin pertunjukan bukanlah sosok dari luar, melainkan Ki Surono Gondo Taruno, S.Sn., M.Si., yang sehari-hari mengabdi sebagai dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UAB. Membawakan lakon "Tundung Kolo Gatutkoco Winisudo", Ki Surono membuktikan bahwa sumber daya manusia kampus memiliki kompetensi kultural yang kuat.
Keterlibatan langsung dalam Ruwat Desa ini perlahan meruntuhkan stigma bahwa kampus adalah "menara gading" yang eksklusif dan berjarak dari realitas sosial sekitarnya. Acara ini juga menjadi wadah peleburan lintas sektor. Selain warga dan pihak kampus, pemerintah kelurahan hingga perwakilan DPRD Provinsi Jawa Timur turut bersinergi menjaga denyut tradisi lokal. Bagi UAB, kolaborasi ini adalah investasi sosial jangka panjang yang memberikan manfaat dua arah. "Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut. Ketika masyarakat memiliki kegiatan, kampus siap memberikan dukungan melalui sumber daya manusia yang kami miliki," tutup Untung.
Melalui langkah strategis ini, UAB sukses menunjukkan bahwa kepedulian terhadap akar rumput dan pelestarian identitas bangsa adalah bagian tak terpisahkan dari muruah perguruan tinggi.