
Surabaya – Di tengah peringatan Hari Sumpah Pemuda, kisah inspiratif datang dari jantung kampus Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (UAB). Imanuel Arya Afdiyanto, mahasiswa Program Studi Sarjana Pendidikan Khusus (PKh) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAB, telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menaklukkan mimpi, bahkan yang paling ekstrem sekalipun: mendaki gunung tinggi!
Pemuda yang akrab disapa Arya ini adalah anggota komunitas Difpala (Difabel Pencinta Alam). Bagi banyak orang, kehilangan penglihatan adalah alasan mutlak untuk menghindari medan terjal. Namun, bagi Arya, tantangan tersebut adalah arena pembuktian diri dan tekadnya untuk meneladani semangat para pemuda di tahun 1928 silam.
“Bagi saya, semangat Sumpah Pemuda itu pengingat agar kita, anak muda masa kini, tetap punya tekad untuk membangun bangsa, meski caranya tidak lagi melawan penjajah. Kita harus berkontribusi lewat karya dan tindakan nyata,” ujar Arya, Mahasiswa Inspiratif UAB seperti yang dikutip dari solidernews.
Dengan kecerdasan dan inisiatifnya, Arya membuktikan bahwa tidak ada hambatan berarti dalam prosesnya menempuh jalur akademik. Ia secara proaktif meminta semua materi kuliah dalam format soft file (non-cetak) agar dapat diakses menggunakan screen reader (pembaca layar). Didukung dengan keterampilan orientasi dan mobilitas yang mumpuni, Arya bergerak mandiri di lingkungan kampus UAB. Lambat laun, keraguan berubah menjadi kekaguman murni dari dosen dan rekan-rekan mahasiswanya.
Ini adalah peran nyata Program Studi Sarjana Pendidikan Khusus (PKh) FKIP UAB dalam mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki daya juang luar biasa dan kemampuan advokasi diri yang kuat.
Meskipun telah menaklukkan berbagai puncak gunung, rafting (arung jeram), hingga snorkeling (menyelam)—aktivitas yang sering dianggap mustahil bagi difabel netra—Arya menyebut bahwa tantangan terberatnya bukanlah alam, melainkan masyarakat.
“Tantangan terbesar bukan mendaki gunung, tapi mendaki gunung yang bernama stigma,” ungkapnya. Kini, melalui media sosial, Arya gencar membagikan kisah petualangannya. Setiap unggahan pendakiannya bukan sekadar pameran hobi, melainkan advokasi tanpa kata yang paling efektif. Ia mengubah persepsi masyarakat secara fundamental: Difabel bukanlah berhenti menaklukkan mimpi, melainkan menemukan cara baru untuk mencapainya.
Imanuel Arya Afdiyanto adalah representasi sempurna dari visi UAB dalam mencetak generasi muda yang berintegritas, berani, dan siap berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. Hal ini juga merupakan komitmen dari UAB untuk menciptkan lingkungan akademik kampus yang inklusif, berbagai fasilitas di kampus Semangat PAGI Ini juga dilengkapi dengan berbagai hal yang representatif untuk para difabel melalui Layanan Dukungan Disabilitas.
Semangat UAB, Arya dan para mahasiswa difabel UAB lainnya adalah obor bagi seluruh civitas akademika UAB dan pemuda Indonesia!