
Surabaya (Berita Kampus) – Anggota Komisi X DPR RI yang membidangi Pendidikan, Olahraga, Sains,dan Teknologi mengunjungi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Ibu Lita Machfud Arifin yang merupakan anggota DPR RI Fraksi Nasdem dari Daerah Pemilihan I Jawa Timur, yang memang konsentrasi pada wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Didampingi dengan beberapa staf ahli di bidang pendidikan, Ibu Lita disambut oleh jajaran Rektorat dan Badan Penyelenggara. Bahkan pagi ini, Selasa (3/6) diberikan kesempatan menanam pohon durian sebagai bukti tradisi absensi para pejabat yang datang ke kampus Semangat PAGI.
Ibu Lita menerangkan bahwa Kunjungan Kerja Spesifik (kunker) Komisi X DPR RI terkait dengan tugas dan fungsi mereka di bidang pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi (ristek), pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda, olahraga, dan perpustakaan. Kunker ini bertujuan untuk menyerap aspirasi, mengawasi pelaksanaan kebijakan, dan meninjau langsung kegiatan di berbagai bidang yang menjadi tanggung jawab Komisi X.
Program penguatan perguruan tinggi swasta, Ibu Lita memilih banyak kampus yang dikunjungi di Jawa Timur. Kesempatan ini diberikan kepada Universitas PGRI Adi Buana Surabaya agar kampus ini dapat menerima hibah yang akan digunakan dalam mendukung proses pembelajaran. Ibu Lita bahkan secara spesifik agar kampus ini mendukung terlahirnya kembali pendidikan karakter bagi anak bangsa. Karena dipandang terjadi penurunan karakter dan jiwa emosional tinggi anak muda sekarang, yang beliau sebut Senggol Bacok, untuk menggambarkan betapa fenomena kondisi anak muda zaman sekarang.

“Hibah PP-PTS (Program Penguatan Perguruan Tinggi Swasta), saya harap Unipa Surabaya segera mengajukan proposal, mengingat kalau mengajukan sendiri itu sangat tidak mudah. Namun kalau PPPTS Aspirasi dari anggota DPR RI ini sifatnya penunjukkan, dan saya menunjuk Unipa Surabaya yang akan menerima bantuan,” ungkap Ibu Lita.
Beliau juga menambahkan bahwa Program Penguatan PTS (PP-PTS) 2025 bersifat bantuan dan merupakan salah satu program pada Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Bentuk bantuannya berupa peralatan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Tentunya anggota dewan akan mengawal proses tersebut hingga ajuan proposalnya berhasil.
Kampus Swasta Keluhkan Penerimaan Mahasiswa Baru
Saat diberi kesempatan jaring aspirasi melalui tanya jawab, hal ini dimanfaatkan oleh Sekretaris Badan Penyelenggara. Bapak Dirganto, menyampaikan efek dari PTNBH yang menjaring mahasiswa sebanyak-banyaknya menjadi keluhan seluruh kampus swasta di Jawa Timur. Gambaran bahwa PTNBH sudah melalui seleksi penerimaan yang berlapis-lapis, maka serapan mahasiswa dari berbagai kategori akan berimbas pada penurunan kualitas bagi kampus swasta, beliau sebutkan downgrade bagi PT swasta, imbas dari serapan mahasiswanya dari kalangan ekonomi menengah, hingga pilihan mahasiswa yang merupakan sisa-sisa dari PTNBH.
“Fenomena perguruan tinggi swasta yang menerima sisa mahasiswa baru dari negeri, maka sebenarnya kondisi mahasiswa tersebut dari kalangan ekonomi yang kurang, secara kognisi juga kurang, maka kampus swasta akan mengalami kondisi downgrade, hal ini sangat ironis,” terang Bapak Dirganto.
Melalui kehadiran Ibu Lita tersebut, harapan untuk mengkaji ulang beberapa kebijakan dapat tersampaikan. PTNBH yang menerima kuota sangat besar dan rasio yang tidak tercukupi sehingga kuliah menjadi terlunta-lunta, agar menjadi perhatian pemerintah. Harapan agar pemerintah juga mempertimbangkan kampus swasta, diberikan kesempatan yang sama untuk mendidik anak bangsa secara proporsional.
Kunjungan Kerja Spesifik di Kampus Adi Buana menjadi catatan tersendiri oleh Ibu Lita. Beliau juga menyarankan agar kampus ini segera koordinasi dengan staf ahlinya yang telah ditunjuk. Kesempatan kunjungan di Jawa Timur, saat ini baru di kampus Ubhara dan Adi Buana. Bahkan Ibu Lita secara khusus menitipkan pentingnya pendidikan karakter bagi mahasiswa. Kegiatan ini diakhiri dengan tukar cinderamata dari Anggota DPR RI Komisi X di depan gedung rektorat, dan kemudian penanaman pohon yang menjadi tradisi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, ketika mendapatkan tamu-tamu penting sebagai bukti absensi hidup. (*)
