
Surabaya (Berita Kampus) – Salah satu agenda kegiatan Dies Natalis ke-54 yang menjadi kearifan lokal bagi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, yaitu Ziarah Makam Pendiri yang diberangkatkan pagi ini (15/5). Delapan titik lokasi yang dikunjungi rombongan jamaah dari kampus yang terkenal dengan ikon bunga matahari. Kota Malang terdapat 2 lokasi yang dikunjungi, makam almarhum H.A Hudan Dardiri dan makam pencetus dan perintis berdirinya IKIP PGRI Jawa Timur almarhum A. Radjab. Kota Kediri hanya satu lokasi yang difokuskan di makam almarhum Drs. Masini Atmadji. Selanjutnya Kota Madium rombongan jamaah hanya menuju di makam almarhum Prof. Dr. H. Iskandar Wiryokusumo, M.Sc
Khusus Kota Surabaya terdapat 4 lokasi, Makam Keputih untuk almarhum Drs. H. M. Roosly. Makam Ngagel Dadi untuk almarhum Prof. Drs. H. Soelaiman Joesoef, MM dan makam Kebraon untuk Drs. H. Matadjit, MM. Akhir perjalanan jamaah dari seluruh Kota Surabaya difokuskan di makam pahlawan Nasional dr. Soetomo di kawasan Bubutan.
“Makam dr. Soetomo menjadi sasaran kunjungan ziarah dari kampus kita, hal ini merupakan napak tilas atas apa yang pernah dilakukan oleh para pendiri. Gedung Nasional Indonesia (GNI) di kawasan Bubutan ini menjadi saksi sejarah pelaksanaan kuliah pertama bagi mahasiswa IKIP PGRI Sarmidi Mangunsarkoro yang akan menjadi cikal bakal Universitas PGRI Adi Buana Surabaya” terang Dr. Untung Lasiyono, M.Si
Merawat Sejarah untuk Menumbuhkan Motivasi
Pesan singkat dari Ketua Badan Penyelenggara, merawat sejarah yang hanya dimiliki oleh perguruan tinggi kita. Ziarah pendiri hanya dimiliki oleh Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, yang diagendakan dalam Dies Natalis dan dikerjakan setiap tahun. Drs. H. Sutijono, MM mengingatkan bahwa generasi yang sekarang diajak berziarah langsung di makam untuk menyaksikan dan menjadi pengingat atas jerih payah dan perjuangan pendiri hingga kampus ini menjadi besar dan berusia 54 tahun.
“Kita mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan ziarah ke makam para pendiri, ini adalah kearifan lokal kita dan saya berharap ini dipertahankan. Hal-hal yang telah diwariskan kepada kita mohon untuk tetap dijaga. Ditengah persaingan perguruan tinggi yang sangat pesat, ziarah pendiri ini mungkin kita semua hanya satu-satunya perguruan tinggi yang mengadakan, jadikanlah ini motivasi dengan mengingat perjuangan-perjuangan para pendiri” pesan Bapak Sutijono.

Sejarah panjang dimulai tahun 1971, didirikan perguruan tinggi yang diberi nama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sarmidi Mangunsarkoro disingkat IKIP Sarmidi Mangunsarkoro berkedudukan di Surabaya. Pada waktu diresmikan, IKIP Sarmidi Mangunsarkoro memiliki Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dengan jurusan Pendidikan Umum. Hal inilah yang akan selalu diingatkan dan selalu menjadi kilas balik dari agenda ziarah. Merawat sejarah untuk menumbuhkan motivasi.
Kompaknya Pendiri Teladan Bagi Dosen Muda
Rektor dalam sambutan pemberangkatan mengulas kegigihan para pendiri. Dimulai dari tidak memiliki gedung, namun jumlah mahasiswanya teramat banyak hingga memiliki gedung sendiri. Kegigihan para pendiri dengan keyakinannya untuk dapat membangun lembaga pendidikan menjadi modal kita untuk membangun juga motivasi berkembang guna mengangkat kembali kejayaan Adi Buana. Delapan pendiri yang kompak dengan niat baiknya, dengan segala keterbatasannya sudah mampu menorehkan prestasi dengan mengumpulkan banyak mahasiswa.
“Mari kita meneladani para pendiri, motivasi para pendiri baik yang masih gesang (masih hidup) dan yang sudah meninggalkan kita semua adalah modal membangun kekuatan untuk mengulang kejayaan kampus ini. Keterbatasan saat itu dengan tidak dimilikinya gedung milik sendiri sudah mampu mengumpulkan banyak mahasiswa. Saat ini tugas kita harus mengikuti jejak pendiri dengan pola dan gaya disesuikan dengan kondisi jaman. Kejayaan Universitas Adi Buana harus tetap kita perjuangankan, kaidah Mutu, Martabat, Sejahtera (MMS) menjadi landasan kita melangkah, dan untuk itu mari kita kompak,” terang Bapak Untung.
Di depan makam dr. Soetomo, rektor juga mengulas sejarah. Saksi atas perjuangan para pendiri juga dibuktikan dengan ditunjukkanya Gedung Nasional Indonesia (GNI) dan pusara pahlawan nasional ini. Di sinilah kebangkitan Adi Buana dibangun oleh para pendiri dengan kuliah pertama atau mungkin saat ini juga dapat disebut dengan PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru). Kenangan 20 Mei 1971 tak lepas dari semangat Kebangkitan Nasional. Tokoh ini, pendiri Budi Utomo yang merupakan organisasi pemuda pertama di Indonesia dan menjadi simbol awal semangat persatuan dan kesadaran nasional dalam perjuangan kemerdekaan. Harapanya pimpinan Universitas Adi Buana, bahwa para dosen dan tenaga kependidikan tidak lepas dari semangat untuk bangkit, mengejar kejayaan selalu harus dilakukan dengan perjuangan. Tentunya dengan mengingat sejarah, akan mengingat kembali prestasi yang telah dilakukan para pendiri. (*)