
Surabaya (Berita Kampus) – Sarasehan sebagai agenda rutin jelang hari kelahiran Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Ini merupakan ajang komunikasi timbal balik antara pimpinan dan karyawan. Tentu kesempatan ini digunakan seluruh pegawai kampus ini, baik dosen maupun tenaga kependidikan. Kali ini narasumber yang dipilih lebih banyak dari tahun-tahun yang lalu. Keterwakilan dari Badan Penyelenggara, Dosen Senior, Dosen Muda, Tenaga Kependidikan serta dari Kerumatanggaan (KRT) menjadi narasumber yang berimbang. Ruang diskusi yang dipenuhi hampir 400 orang, siang ini (19/5) berasa sangat sakral dan kental dengan nuansa tradisional, lantunan gamelan menyuguhkan ladrang asmaradana sudah mendayu-dayu seantero Gelora Hasta Brata. Gebyarnya ketika tarian Menak Koncar, jadi pembuka cara sarasehan.
Tari Menak Koncar dikenal menggunakan gaya Mangkunegaran dan Kasunanan. Karakter tari Menak Koncar adalah alus lanyap. Tari Menak Koncar bertema gandrungan, menceritakan gandrungnya Adipati Menak Koncar kepada Dewi Sekati. Menak koncar menggambarkan senopati pemimpin perang, berkarakter tenang, antep, gagah. Tari menak koncar merupakan sarana ungkap ekspresi pengalaman jiwa yang diwujudkan melalui garap medium gerak. Ungkapan dalam seni mempunyai tujuan hayatan yang akan berbeda dengan ungkapan sehari-hari. Rasa ungkap tari akan dapat terwujud melalui medium gerak yang disajikan secara utuh dan penuh penghayatan.
Muhammad Zhafran Prasatya penari ini cucu sang pendiri. Perawakannya mewakili apa yang digambarkan di atas, tampan dan gagah, tenang, berwibawa. Bahkan seluruh audiens tak lepas memadangnya, karena semua baru pertama melihat penampilan ini. Dialah cucu Drs. H. Sutijono, MM yang merupakan Ketua Badan Penyelenggara Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Zhafranpun diberikan kesempatan mengulas maksud dan tujuan tarian ini.
“Tari Menak Koncar pertama kali disusun oleh Nyi Bei Minto Laras dalam gaya Mangkunegaran tahun 1960-1970. Kemudian digubah oleh S. Maridi dan direkam sekitar tahun 80-an, Tari Menak koncar menggambarkan Adipati Menak Koncar sebagai pemimpin senopati perang. Menak Koncar digambarakan gandrung dengan Dewi Sekati. Ini merupakan kegaluan jiwa menak koncar, antara perang dan susah meninggalkan sang dewi,” ungkap Zhafran di panggung.
Zhafran menambahkan bahwa berhasilnya tarian ini juga tidak mudah, lika-liku latihan dengan para pengrawit dari tim Swara Buana juga harus berulang kali pertemuan. Struktur musik tari Menak Koncar adalah pathetan, ladrang Asmaradana laras slendro pathet manyura, sampak slendro sanga, pathetan. Adapun urutan tuntutnya sebagai berikut: irama tanggung, irama dadi, ciblon, gambyongan, irama wilet, ktawang Asmaradana, kembali ke irama tanggung.
