
Surabaya (Berita Kampus) – Kuliah umum tentang Growth Mindset dalam pembelajaran, dengan narasumber yang pernah mengenyam pendidikan di Michigan State University, USA. Beliau adalah Prof. Suyanto, M.Ed., Ph.D yang merupakan mantan Dirjen Mendisdakmen Republik Indonesia. Pengalaman yang luar biasa dalam dunia pendidikan, Profesor kelahiran Magetan yang pernah menjabat rektor Universitas Negeri Yogyakarta pada periode 1999-2006 selama dua periode, sangat erat sekali dengan kontribusinya dalam upaya dunia pendidikan, bahkan curriculum vitae yang diberikan kepada panitia mencapai 71 halaman yang bercerita banyak tentang sepak terjang beliau dalam dunia pendidikan hingga tahun 2023. Pagi ini, Senin (17/2) menempati ruang teater gedung Pascasarjana sebanyak 80 peserta kuliah umum mengikuti secara Luring, dan ada sekitaran 103 peserta mengikuti secara Daring.
Mengawalinya dengan kalimat Self-fulfilling Prophecy, yang merupakan modal awal dalam pembentukan Growth Mindset, Prof Suyanto sudah menarik perhatian para peserta. Bahwa semuanya diawali dengan membangun kepercayaan, bahwa keyakinan kita terhadap orang lain tentunya tidak boleh seperti otak yang tergembok/terkunci. Semua bisa diubah, bahkan beliau mengutip Surat Yusuf ayat 87 yang berbunyi “Wa La Tai’asu” yang artinya dan jangan kamu berputus asa, itu adalah gambaran manusia harus dapat mengubah segalanya untuk dapat menolak Fixed Mindset.
“Keyakinan kita, itu akan mempengaruhi sukses kita dan sukses orang lain. Mahasiswa kita harus diyakinkan untuk sukses, maka ini adalah membangun pikiran positif. Marilah melepas pola lama dalam pembelajaran, ingat prediksi Rowan Gibson bahwa faktanya masa depan bukanlah kelanjutan dari masa lampau, berfluktuasi dan tidak boleh berhenti, untuk meraih masa depan, makanya kita harus menerima tantangan itu,” jelas Prof Suyanto
Narasumber membagi dua hal dalam paparanya, Fixed Mindset dan Growth Mindset. Kedua pemikiran ini mampu digambarkan dengan detail, fixed mindset seperti digembok dan growth mindset seperti kaleidoskop, aneka pikiran yang kemana-mana. Inovasi, kreatifitas, imajinasi ini merupakan sumber awal terciptanya teknologi, terutama pada imajinasi ini begitu pentingnya. Membedakan fixed dan growth sangatlah mudah, jika seseorang sudah gampang pasrah terhadap keadaan, maka itu kelompok fixed. Namun jika percaya bahwa semua orang itu memiliki bakat dan potensi dibidangnya masing-masing, maka dapat dikategorikan penganut paham growth. Oleh karena itu, seorang pendidik wajib bisa memupuk growth mindset dari mahasiswanya.
“Growth mindset voice, kalimat-kalimat ini cocok bagi orang yang suka malas, paparan saya ini bisa ditempelkan di dinding, contohnya bila saya gagal saya belajar. Penting lagi bahwa Bagaimana cara memupuk growth mindset, yaitu OCD (Obstacles, Challenges, Difficulties). Sadari bahwa kita semua punya pilihan, sangat beda dengan fixed mindset yang tidak mau menerima tantangan,” ungkap Prof Suyanto
Pesan profesor, bahwa terdapat 4 tahapan dalam menanamkan growth mindset. Pertama belajar untuk mendengarkan suara fixed mindset. Kedua sadari bahwa kita punya pilihan, jangan seperti sapi yang dipekerjakan di sawah, hanya patuh saja tidak kreatif. Ketiga lakukan aksi growth mindset, seperti menghadapi tantangan, berupaya perbaikan, jadikan kritik sebagai inspirasi. Keempat bicara kembali dengan suara growth mindset tentang apa-apa yang telah dicapai dan mencari upaya untuk memperbaiki. Terpenting adalah kalau seseorang ingin berubah, jangan menunggu orang lain, diawali dari diri sendiri. Berubahlah dari comfort zone menuju growth zone untuk melukan set up keberhasilan yang baru. (*)