
Surabaya (Berita Kampus) – Workshop kurikulum Program Studi Magister Teknologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas PGRI Adi Buana Surabaya tahun 2025. Hal yang menjadi dasar pemikian utama dalam kegiatan ini, fokus melakukan transformasi kurikulum teknologi pendidikan berkarakter PAGI (Peduli, Amanah, Gigih, Inovatif) sebagai pilar utama mempertahankan akreditasi unggul. Dunia pendidikan tinggi tidak boleh abai terhadap hal tersebut, evaluasi dan pengembangan kurikulum merupakan satu aspek penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Workshop kurikulum yang menempati ruang Ballroom PrimeBiz Hotel Surabaya, Selasa (11/2) menghadirkan stakeholder. Diantaranya narasumber kurikulum, reviewer, dosen, mahasiswa, alumni dan pengguna serta tenaga kependidikan.
Capaian learning outcomes, memang harus ditata secara strategis. Tentunya kurikulum tersebut harus relevan, efektif dan tepat sasaran sesuai keinginan pengguna. Workshop yang diselenggarakan menghadirkan 26 peserta dan 1 narasumber. Prof Dr Mustaji MPd menjadi narasumber kurikulum. Kepakaran beliau untuk teknologi pendidikan sudah tidak diragukan lagi, beberapa profil lulusan program studi TEP merupakan buah pemikiran beliau. Ruang lingkup materi workshop kurikulum juga dipadatkan agar luaran yang diharapkan dapat diselesaikan oleh para peserta. Luarannya meliputi; Dokumen kurikulum, profil lulusan yang terbaru, peta mata kuliah, strategi implementasi kurikulum, mekanisme evaluasi dan monitoring. Terakhir dari hasil luaran workshop ini, adalah integrasi antara riset dan pengabdian kepada masyarakat dalam kurikulum teknologi pendidikan.
Direktur Sekolah Pascasarjana, Dr Drs Rufi’I SSi ST MPd dalam mengawali bedah materi menjelaskan bahwa penyesuaian kurikulum dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) menjadi ruh utama dalam pembahasan ini, tentu dengan penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan industri dan society.
“Penyesuain kurikulum dipastikan akan selalu ada perubahan secara dinamis, hari ini kita datangkan pakar untuk membantu mengkaji kurikulum yang diterapkan pada S2 TEP, dimulai dari struktur kurikulum, deskripsinya juga. Bahkan kita dititipi oleh Ketua Badan Penyelenggara agar menempatkan mata kuliah pilihan atau konsentrasi, dan ini semua akan kita konsultasikan dengan pakar Prof Mustaji,” terang Bapak Rufi’i

Pembahasan tiap-tiap struktur mata kuliah, dari yang lama 43 SKS dan yang terbaru 54 SKS diulas juga secara tuntas dengan moderator yang menjabat juga sebagai penanggung jawab workshop, yaitu Dr Adi Bandono MPd. Berbagai masukan dari para reviewer kurikulum yang tentunya dari para dosen yang mengampu pada Prodi S2 TEP, baik kaitanya dengan masa studi serta kecukupan SKS agar eligible saat dinyatakan lulus, menjadi bahan kajian yang menarik. Informasi dari para stakeholder, terutama pengguna lulusan menjadi prioritas. Bahkan alumni atas nama Dimas Dwi Sagita yang saat ini bekerja di UNUSA Surabaya, bersuara keras dengan kecukupan SKS yang ditempuh lulusan. Karena efeknya pada data PDDikti, mahasiswa mendapatkan PIN Ijazah, jika dinyatakan eligible.
“Kita semua harus antisipasi kaitanya dengan jumlah SKS yang ditetapkan dengan pemberlakuan aturan terbaru. Kita juga harus memikirkan tentang media pembejaran, bagaimana pula kita semua memikirkan produk kita itu disebar luaskan mendekati pengguna, sehingga tidak menjadi seonggok produk media pembelajaran yang tersimpan di laboratorium,” tegas Bapak Adi Bandono.
Narasumber kurikulum, Prof Mustaji mengingatkan pada semua peserta yang hadir. Bahwa profil lulusan S2 Teknologi Pendidikan yang perlu ditekuni, yaitu; pertama berkaitan dengan kepemimpinan pembelajaran dan berikutnya adalah manajemen pendidikan dan kepelatihan. Bahkan Prof Mustaji juga menerangkan tahapan pengembangan kurikulum baru. Setiap kurikulum yang dimunculkan mekanismenya harus terdapat pendahuluan, perancangan kurikulum baru, sanctioning kurikulum baru melalui workshop, uji publik/publikasi kurikulum baru dan terakhir implementasi.
“Analisis kebutuhan dan studi kelayakan sebuah kurikulum didasarkan pada kebutuhan stakeholder, mahasiswa, dosen, pengguna lulusan dan masyarakat. Perlu juga tahu kondisi sumber daya prodi. Jika dibutuhkan studi banding sebagai mekanisme comparative study, maka lakukanlah. Jangan lupa juga pelacakan lulusan, baik kinerja, penguasaan keterampilan dan hambatan mereka saat terjun pada dunia kerja,” pungkas Prof Mustaji sekaligus mengakhiri pemaparan materi yang dilanjutkan dengan acara diskusi. (*)