
Surabaya (Berita Kampus) – Peringatan Isra Mikraj senantiasa menjadi hal yang sangat penting bagi umat Islam. Peristiwa ini dikatakan sebagai sikap tertinggi kaum muslim dalam penghambaanya kepada Allah SWT. Hal ini dikarenakan adanya sebuah perintah penting dalam Isra Mikraj, yaitu Sholat. Dikutip dari KBBI, pencarian kata Isra Mikraj memiliki arti peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al Aqsa menuju ke langit ketujuh atau Sidratul Muntaha atau di langit ketujuh pada malam hari yang menghasilkan perintah salat lima waktu. Hal ini juga diperkuat dalam ceramah KH Mochammad Ikhwan MSi MPdi, pada Kamis (23/1) di masjid Luhur Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Peringatan Isra Mikraj 2025 sekaligus berbarengan dengan rutinan Istighotsah Jum’at Legian yang menjadi ciri khas budaya religi di kampus Semangat PAGI. Bahkan undangan acara ini dibuat langsung oleh ketua Badan Penyelenggara. Drs H Sutijono MM memberikan ucapan terima kasih kepada para jamaah yang berkenan hadir, ditengah-tengah kesibukan dalam proses pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi.
“Pentingnya kita mendekatkan diri kepada Allah SWT, ditengah tantangan PTS yang sangat besar, terutama dalam pengembangan diri, serta penerimaan mahasiswa baru yang tempo hari telah di launching. Mudah-mudahan Universitas ini tetap dipercaya oleh masyarakat,” pesan abah Sutijono.
Ceramah yang disampaikan oleh KH Mochammad Ikhwan MSi MPdi dari Wonocolo Surabaya, mengulas tentang peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW pada malam 27 Rajab. Beliau juga menyampaikan bahwa pada peristiwa tersebut, umat muslim juga tidak boleh lupa terhadap upaya dan peran Nabi Musa AS.
Secara singkat ketika Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan Mikraj ke langit, beliau bertemu dengan berbagai nabi di beberapa tingkat langit, dan salah satunya adalah Nabi Musa AS. Nabi Musa memberikan saran kepada Nabi Muhammad SAW terkait perintah salat. Awalnya, Allah memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan salat lima puluh kali sehari. Namun, ketika Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa di langit keenam, Nabi Musa memberi nasihat agar beliau kembali kepada Allah dan meminta keringanan, karena Musa merasa jumlah tersebut terlalu berat untuk umat Islam.
“Setelah diperintahkan menjalankan sholat 50 kali, maka nabi Musa menjelaskan bahwa umatnya tidak akan pernah kuat menjalankannya. Sehingga Nabi Musa meminta Nabi Muhammad SAW untuk naik kelangit ketujuh meminta keringanan. Hingga akhirnya diperintahkan umat Nabi Muhammad SAW, menjalankan sholat 5 waktu,” ungkap KH Ikhwan.
Jadi, peran Nabi Musa di sini adalah memberikan nasehat yang sangat berharga bagi Nabi Muhammad SAW dalam mengurangi beban sholat yang diperintahkan kepada umat Islam. Nabi Musa sangat menyadari kemampuan umat-umat nabi di akhir zaman.
“Manusia itu di desain oleh Allah SWT harus berdoa, harus banyak berdzikir. Sehingga Allah SWT memberikan banyak ujian kepada manusia, agar kita semua larinya kepada Allah SWT. Itulah keistimewaan manusia, yang didesain dekat dengan sang Pencipta. Sholat adalah bukti dan kadar tertinggi penghambaan manusia kepada Sang Pencipta, itulah makna dan perintah Isra Mikraj yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad SAW,” tutup ceramah KH Ikhwan.(*)