Berita Kampus

August 24, 2023

Surabaya – Programa Satu Radio Republik Indonesia, dengan program MAKSI (Makan Siang Bersama Teman Sejati) yang lebih dikenal dengan PRO 1 FM 99.2 MHz, untuk Kamis (24/8) siang ini menyiarkan secara interaktif rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (Unipa Surabaya) sebagai narasumber. Dr Hartono MSi diundang sebagai pakar bimbingan konseling. Berangkat dari kampus Dukuh Menanggal menuju kantor Radio RRI yang beralamat di jalan Pemuda 82-90 Surabaya, pak Hartono sudah ditemui oleh kepala divisi penyiaran pada pukul 11.45 WIB.

Program MAKSI pada PRO 1 FM 99.2 MHz biasanya memang diisi oleh para tokoh nasional Jawa Timur serta beberapa pakar dari komunitas dan pendidikan. Host yang sangat terkenal dan akrab ditelinga para pendengar RRI yaitu Fresty Oktora, menemani pak rektor hingga pukul 13.00 WIB. Tema yang diambil kaitanya dengan seputar bimbingan konseling, tantangan dan penerapannya bagi anak didik. Bahkan mbak Fresty, sapaan host cantik ini memulainya dengan pertanyaan seputar karir pak rektor. Bahkan pak rektor menceritakan bahwa beliau dari Lamongan, awalnya menamatkan pendidikan sarjana bimbingan dan konseling dari IKIP Surabaya. Hingga terpilih menjadi ketua Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) Provinsi Jawa Timur.

“Ketika anak dipanggil oleh guru Bimbingan Konseling, maka konotasinya adalah anak yang bengal atau nakal, nah ini sebenarnya bagaimana sih pak, menanggapi hal-hal yang demikian” tanya mbak Fresty mengawali pembicaraan.

Pak Hartono memberikan gambaran secara luas, bahkan beliau mengibaratkan bahwa dalam konteks bimbingan konseling sering terjadi budaya yang salah memahami konseling, sering juga misperception. Peserta didik kita konseling merupakan hal yang wajar. Konseling pada anak itu hal yang lazim, agar terjadi rentang perkembangan yang wajar.

“Melihat kondisi belakangan ini, berita tentang siswa membully gurunya, anak melawan orang tua, kenakalan remaja, seyogyanya bagaimana yang harus dilakukan oleh guru bimbingan konseling untuk membantu menghindari hal tersebut” tanya kembali mbak Fresty untuk membuat perbincangan lebih interaktif.

“Keteladanan adalah hal terpenting yang harus diberikan, baik orang tua, guru di sekolah, dosen di kampus, baik saat bicara maupun bertingkah laku. Jangan dikira bicara kasar pada bayi itu juga tidak berakibat fatal, hal ini akan direkam dalam long term story pikiran bayi. Suatu saat akan diungkapkan bayi melalui kalimat-kalimat yang diucapkan oleh orang tuanya” jelas Pak Hartono.

Keteladanan Ki Hajar Dewantara, melalui Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani itu diakui oleh bangsa Jepang. Menyandari bahwa konteks yang disampaikan oleh Ki Hajar kepada peserta didik di Indonesia itu merupakan cara yang efektif. Guru dan orang tua juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan anak dan murid-muridnya. Hubungan komunikasi yang baik ini akan membuat anak-anak terbuka dalam menyampaikan masalah dan pemikirannya. Dengan begitu setiap masalah dapat dipecahkan secara bersama-sama. Anak-anak pun akan senang karena mendapat perhatian orang tua dan gurunya. Proses pembimbingan inilah yang dimaksudkan agar rentang perkembangan anak pada tahap yang wajar, maka diperlukan pendampingan maupun konseling. (*)


Berita Terbaru
Kategori Berita
Kemitraan Internasional
Monash University Universiti Teknologi Mara Hutech University of Technology International Cultural Communication Center Malaysia Maejo University Thepsatri Rajabhat University USSH Saint Louis University Institut Pendidikan Guru
Copyright © 2025 by Universitas PGRI Adi Buana Surabaya