
Surabaya – Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) untuk pagi ini digelar dengan khidmat dan meriah di lapangan Semangat PAGI kampus 2 Dukuh Menanggal. Memperingati momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78 tahun, secara serentak dosen dan tenaga kependidikan diwajibkan menjadi peserta upacara. Begitupun mahasiswa serta siswa SMA Intensif Taruna Pembangunan juga menjadi bagian dari kegiatan ini. Menariknya lagi perwakilan dari Muspika, yang untuk tahun ini hanya diwakili oleh satu SSK pegawai kelurahan Dukuh Menanggal. Lurah Nurul Azizah menjadi tamu kehormatan bersama jajaran rektorat dan dekanat. Tema peringatan HUT Republik Indonesia tahun ini adalah : Terus Melaju Untuk Indonesia Maju.
Teks proklamasi dibacakan oleh ketua PPLP PT PGRI Surabaya. Drs H Sutijono MM begitu tenang dalam pembawaanya, sehingga kesan seperti mendengarkan kembali proklamasi pada tahun 1945 serasa begitu lekat. Inspektur upacara oleh Dr H Hartono MSi yang merupakan rektor Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (UNIPA Surabaya). Pengibar bendera dengan formasi sebanyak 10 mahasiswa. Kali ini petugas pengibar sang saka merah putih dipercayakan kepada UKM Pramuka Gugus Depan Pramuka 493-494. Desshienta Nur Azizah Yuan Chojie yang merupakan mahasiswa program studi PGSD dipercaya untuk membacakan Pembukaan UUD 1945. Selanjutnya pemimpin upacara dengan pakaian Satmenwa lengkap adalah Muhammad Arif Nurrohman ST. Pembaca doa oleh mahasiswa Pendidikan Jasmani yaitu Nur Ahmad At Tanzil. Tidak kalah memukaunya adalah tim dari UKM paduan suara gita pesona yang menjadi pengiring lagu-lagu nasional dan Indonesia Raya. Febrian Dinda Wardani, mahasiswa cantik bersuara merdu ini menjadi pembawa acara utama, dinda panggilan akrabnya merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia.
Lanjutan dari kegiatan upacara bendera 17 Agustus 2023, merupakan sarasehan. Pada kegiatan ini biasanya dipergunakan untuk bercerita kilas balik para pejuang. Bapak Sutijono yang diberikan kesempatan pertama, bercerita banyak hal. Bahkan beliau mengulas kembali tentang Irian. “Irian itu gubernur pertamanya adalah pejuang, Irian itu merupakan akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti Nedherland, dan pejuangannya adalah Frans Kaisiepo, yang dapat kita lihat foto beliau berada di uang pecahan seribuan” terang Bapak Sutijono.
Rektor juga menambahkan penguatan dengan meminta agar orang-orang Adi Buana juga tidak melupakan sejarah, terutama para pahlawan bagi berdirinya UNIPA Surabaya. Menurut beliau sejak berdiri 1971 banyak tokoh yang berjibaku membangun kebesaran universitas ini. Sehingga prinsip tekad Satu Adi Buana Jaya harus benar-benar dijaga dan didengungkan kepada semua sivitas akademika saat ini.