
Surabaya – Orasi ilmiah yang sangat elegan, disampaikan oleh seorang dosen senior yang sudah puluhan tahun konsentrasi dalam bidang persampahan dan problematikanya. Dra Sri Widyastuti ST MSi memaparkan idenya dihadapan 296 mahasiswa Fakultas Teknik, yang di Yudisium pada tanggal 15 September 2022. Perempuan tangguh lulusan UGM yang memiliki keahlian bidang Ilmu Kimia, memaparkan keberadaan Bank Sampah Kampus dengan sebutan Bastelinga.
Bank Sampah Teknik Lingkungan (Bastelinga). Merupakan perwujudan dari Best Practices Bank Sampah Kampus. Saat ini aktivitas bastelinga, meliputi pemilahan sampah dan penjualan sampah kering kepada pelapak, mahasiswa sangat aktif dalam proses pengolahan sampah yang ada di Bastelinga. “kami mempertimbangkan strategi pengelolaan Bank Sampah dengan menganalisis faktor internal berupa kekuatan (strenghts) dan kelemahan (weekness) serta faktor eksternal berupa ancaman (threats) dan peluang (opportunity)” terang Sri Widyastuti.
Penjelasan beliau atas dasar analisisnya terdapat tiga kekuatan yang dimiliki oleh Bastelinga. Kekuatan tersebut yaitu terjalin komunikasi yang baik antara pengelola, setiap pengelola memiliki tugas pokok yang jelas, dan visi misi yang mendukung kelestarian lingkungan terutama pada aspek pengelolaan sampah. Selain itu juga terdapat lima kelemahan. Kelemahan Bastelinga yaitu kedisiplinan pengelola yang belum optimal, jumlah pengelola yang masih terbatas, penelitian untuk menghasilkan data series di bank sampah masih terbatas, belum tersedia Standar Operasional Prosedur (SOP) yang mengatur segala aktivitas di bank sampah, dan sarana prasarana yang belum lengkap.
Lima peluang yang dimiliki yaitu perkembangan teknologi yang canggih, sarana mengurangi sampah dan edukasi masyarakat sekitar kampus, membuka lapangan kerja baru, adanya dukungan pemerintah daerah, dan ketertarikan pihak swasta untuk memberikan CSR kepada Bank Sampah Bastelinga. Tiga ancaman diantaranya adalah pemulung dan pengepul menjadi pesaing bank sampah kampus dan komunikasi kepada pengepul dan pemulung untuk menjadi mitra Bank Sampah kadang masih terkendala.
Orasi ilmiah yang mengambil tema langsung dengan fenomena lingkungan kampus menjadi daya Tarik tersendiri. Antusias peserta Yudisium juga nampak dari keseriusan mereka mendengarkan pemaparan slide demi slide yang ditayangkan di depan. “Menjalankan Bank Sampah seringkali bersifat sukarela (volunteer) ini berdasarkan kesadaran dari diri pribadi sendiri agar dapat mengajak masyarakat mau peduli dengan sampah. Bank Sampah dapat menjadi Pusat Kajian Lingkungan, Bank Sampah akan menjadi amalan jariyah kita untuk peduli terhadap lingkungan” tutup Sri Widyastuti yang diikuti dengan tepukan tangan seluruh peserta Yudisium Fakultas Teknik. (*)
