
FOTO BERSAMA: Susilowati (5 dari kanan) dan Atiqoh (5 dari kiri) usai sidang doktor bersama dewan penguji, pendiri Unipa dan Rektor Unipa.
Surabaya- Universitas PGRI Adi Buana Surabaya sudah sepantasnya berbangga diri, dalam sebulan telah dianugerahi tiga doktor, menyusul Dr. Sunyoto Hadi Prayitno, ST., M.Pd doktor di bidang Pendidikan Matematika, kini giliran Dr. Susilowati, M.Pd dan Dr. Atiqoh, M.Pd dari bidang Teknologi Pendidikan. Kamis, (18/1)
Istimewa sekali, dalam sidang kedua promovendus itu, diuji langsung oleh Ketua PPLP PT PGRI Surabaya Prof. Dr. Iskandar Wiryokusumo, M.Sc sebagai salah satu dewan penguji.
Dalam sidang promosi doktor itu, terlihat sejumlah pejabat Unipa yang hadir memberikan dukungan, di antaranya Pendiri Unipa Drs. Sutijono, MM, Rektor Unipa Drs. Djoko Adi Waludjo, ST., MM., DBA, Dekan FKIP Dr. Suhari, SH., M.Si, Kaprodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Agus Ridwan, M.Pd, dan para dosen Unipa Surabaya.
Dalam disertasinya, Susilowati mengangkat judul tentang Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran DICEL, Kemampuan Berpikir Kritis dan Sikap Sosial Terhadap Hasil Belajar pada Mata Kuliah Pengelolaan Makanan Indonesia. Berbeda dengan Susilowati yang meneliti kuliner yang lebih mengarah pada Tata Boga, Atiqoh memilih meneliti terkait bagaimana konstruksi pola busana yang dalam penelitiannya dia mengambil judul Pengembangan Buku Ajar Dalam Strategi Problem- Based Learning Untuk Meningkatkan Kompetensi Membuat Konstruksi Pola Busana.
Lega, kata kedua dosen Unipa tersebut usai turun dari podium, setelah kurang lebih 2 jam ditempa berbagai pertanyaan dari dewan penguji terkait penelitian. Akhirnya, keduanya dianugerahi predikat sangat memuaskan oleh dewan penguji di Gedung K10 Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.
Setelah resmi menyandang gelar doktor dibidang Teknologi Pendidikan dari salah satu universitas negeri terbaik di Surabaya, baik Susilowati maupun Atiqoh ingin hasil penelitiannya dapat dimanfaatkan untuk memudahkan dalam proses pembelajaran.
Penelitian kedua peneliti sangat menarik, seperti DICEL merupakan penggabungan 3 model pembelajaran, yakni direct instruction, collaborative learning, dan e-learning. Menurut Susilowati model ini perlu diterapkan dalam mata kuliah pengelolaan makanan Indonesia dikarenakan pengelolaan makanan Indonesia lebih rumit untuk dipelajari, mengingat begitu banyaknya provinsi yang mana memiliki ciri khas masakan dengan penggunaan bumbu yang berbeda-beda.
Sementara Atiqoh berangkat dari rendahnya kemampuan peserta didik dalam memahami kompetensi membuat pola busana , untuk itu dia menulis buku ajar sebagai sumber belajar yang strategis yang sesuai dengan K13. Menurutnya, dalam tulisannya tersebut telah memenuhi kriteria yang dibutuhkan dalam membuat konstruksi busana.