
BANGGA: Zizi (tengah) mahasiswa Unipa Surabaya yang lolos menjadi bidan nusantara di Ogo Tua Dampil Utara
SURABAYA- Program Studi Kebidanan Unipa Surabaya kembali menunjukkan eksistensinya dalam dunia kesehatan. Prodi yang berakreditasi B tersebut selalu menggagas hal-hal baru melalui acara yang bertajuk seminar. Kali ini mengangkat tema “Optimalisasi Tumbuh kembang Anak melalui Baby Spa” yang melibatkan alumni dari angkatan pertama. Acara yang dilakukan di Kampus II Unipa tersebut nampaknya sukses dengan kehadiran peserta 170 orang dari mahasiswa dan juga alumni. Minggu, (7/6).
Nampaknya, sangat seru karena dikonsep dengan talk show , simulasi, dan sharing alumni. Sehingga, peserta tidak bosan selama mengikuti seminar. Narasumber juga sangat cerdas dalam mengolah materi presentasi sehingga menarik untuk diikuti hingga akir. Menurut Atik Dosen Kebidanan Unipa Surabaya, ini adalah langkah yang baik untuk kedepannya. Mahasiswa bisa belajar lebih banyak lagi selain kepada narasumber juga pada alumni mereka.
Disamping itu, juga diperagakan langsung bagaimana melakukan baby spa yang benar. Bayi merupakan makluk yang rentan jadi diperlukan simulasi yang baik agar tidak memengaruhi tumbuh kembangnya. “Terang, Krisnamurti ketua pelaksana acara.
“Dalam hal ini, khususnya para Ibu dapat belajar bagaimana kiat-kiatnya agar bisa melakukan sendiri di rumah. Selama ini, banyak masyarakat yang tidak tahu pentingnya baby spa, sehingga sering diabaikan dan jika dilakukan sering sembrono. Hal ini sering ditemukan di masyarakat umum. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kami berupaya menekankan pada optimalisasi tumbuh kembang anak.
Setiawandari Dosen Kebidanan Unipa mengatakan spa ini berbeda dengan spa di salon pada umumnya. Spa ini untuk mengoptimalkan tumbuh kembang bayi secara optimal. Intinya, tidak melihat bagaimana pijat bayi dilakukan tetapi stimulus yang diberikan. Baby spa ini bisa dilakukan pada bayi baru lahir dan usia sampai 5 tahun. pada bayi baru lahir pemijatannya tidak terlalu keras dan dalam tapi sebatas mengusap. Sampai usia 2-3 bln pijatan ini ditambah intensitasnya semakin dalam dan bisa dilakukan setiap hari. Sampai anak ini tidak mau dipijat.
“Hal yang perlu diketahui pada bayi yang baru lahir harus dihindari pada bagian pusar yang belum lepas tali pusatnya tetapi jika sudah lepas gerakan pemijatan bisa dimulai dari kepala hingga ujung kaki kecuali ubun-ubun.
Selain itu, teknik pembelajarannya bisa melalui media massa, elektronika, dan bidan terdekat itu yang pijat bayi. Namun, untuk fisioterapis perlu pelatihan khusus di mana pelatihannya hanya ada di Solo yang dilakukan oleh tenaga professional. Nah, bagi Ibu yang ingin melakukan sendiri di rumah bisa belajar dari bidan terdekat dan dari media massa. Langkah-langkahnya bisa dipelajari secara otodidak. “tambah Setiawandari.
Disamping itu, dalam kesempatan ini juga kedatangan Zizi alumni Kebidanan angkatan 2008 yang telah berhasil menjadi bidan nusantara yang ditempatkan di Ogo Tua Dampil Utara. Bisa terpilih menjadi bidan di sana itu perlu perjuangan yang tidak biasa. Untuk itu, Zizi mencoba berbagi pengalaman bagaimana Dia bisa diterima. Banyak tips mulai dari proses pendaftaran yang melalui on line, seleksi, FGD (Focus Group Discussion), dan karantina hingga ditempatkan di daerah tertentu. Yang penting ada niat untuk mencoba dan harus rela meninggalkan segala kemudahan yang saat ini dimiliki, kata Zizi.
Sementara itu, mahasiswa juga dibekali mata kuliah etika dan pengembangan potensi diri dan juga kewirausaahan. Jadi, bidan yang lulus bisa meningkatkan potensi dirinya baik soft skill maupun hard skillnya. Sehingga mereka tidak hanya sebagai bidan tetapi bisa membuka lapangan pekerjaan. Sedangkan kewirausahaan yang bisa dilakukan seperti, Baby spa, senam ibu hamil, senam nifas, desain baju untuk orang hamil. (rohma)