
GEMBIRA: Probo dan Ronal (tengah) pemenang hadiah dua unit Honda Beat didampingi oleh Iskandar (Ketua PPLP PT PGRI Surabaya), H. Sutijono (Rektor Unipa Surabaya) berserta jajarannya.
SURABAYA- Unipa Surabaya menggelar berbagai acara dalam rangka Hari Jadinya ke 44 tahun. Tak ubahnya dengan tahun-tahun sebelumnya, acaranya selalu meriah mulai dari sarah sekhan, istighosah, ziarah makam pendiri Unipa, pemecahan rekor muri, hingga jalan sehat yang diikuti oleh seluruh keluarga besar Adi Buana dan masyarakat disekitar kampus. Tahun ini ada sekitar 1500 orang yang mengikuti jalan sehat. Minggu, (31/5).
Dyah KB kemahasiswaan Unipa Surabaya mengatakan tidak hanya jalan sehat saja melainkan juga dipersiapkan stand-stand buat mahasiswa dan umum untuk belajar berjualan.
Menurut Sutijono Rektor Unipa Surabaya Dies Natalis merupakan kegiatan tahunan yang selalu digelar dengan aneka macam kegiatan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan. Tahun ini adalah Dies Natalis ke-44 dan alhamdulillah semua acara bisa berjalan dengan lancar. Dies Natalis Unipa sendiri jatuh pada tanggal 20 Mei 2013. Setiap tanggal tersebut selalu diadakan upacara yang melibatkan seluruh warga kampus dan yayasan di bawah naungan kampus, ditengah upacara diwarnai dengan pemberian penghargaan kepada para karyawan yang loyal dalam mengabdikan diri dan juga mahasiswa berprestasi.
Jalan sehat menjadi acara favorit yang selalu ditunggu-tunggu. Banyak hadiah yang dipersembahkan baik dari panitia maupun sponsor seperti Bank Mandiri, Bank Sampoerna, BNI, BRI, CV. Mawar, dan Milo. Ada hadiah hiburan seperti sembako, kulkas, mesin cuci, dispenser, setrika, kompor gas, laptop, hingga uang tunai. Sedang hadiah utamanya sendiri ada dua buah Honda Beat persembahan dari PPLP PT PGRI Surabaya dan panitia. (red)
H. Sutijono Rektor Unipa dan Prof. Iskandar Ketua PPLP PT PGRI Surabaya berkesempatan untuk melakukan pengundian hadiah utama yaitu dua unit sepeda motor Honda Beat. Ternyata, dewi fortuna berpihak pada mahasiswa PKO angkatan 2013 bernama Probo dan Ronal dari masyarakat Ngagel. Saat ditemui keduanya tak mampu berkata-kata dan sambil terus menciumi kontak sepeda simbolis yang diserahkan padanya. (rohma)