opini

May 14, 2020

       Pandemi Covid-19 telah menyebar di 213 negara, peradaban manusia di dunia tersentak, tergegap-gegap karena kehadirannya yang tiba-tiba berdasarkan data Satgas Covid-19, Rabu (13-5-2020) di Indonesia ada 15.438 kasus positif Covid-19 angka sembuh dan kematian terus bergeser.

            Pandemi Covid-19 menyadarkan manusia tentang arti penting sains. Kaum terpelajar menengok kembali pikiran Immanuel Kant (1876) yakni manusia harus berargumentasi aposteriori (evidence based). Nalar apriori adalah kognisi matematis logis dari sebuah konstruksi konsep tertentu.

            Pandemi Covid-19 menyajikan realitas penyebaran virus yang amat cepat, sementara itu para dokter /pakar medis menyatakan bahwa vaksin penangkal virus belum ada. Berbagai lembaga riset dan peneliti berbagai laboratorium berpacu dengan waktu untuk merumuskan vaksin penangkal virus Covid-19. Bila calon vaksin penangkal ditemukan masih perlu waktu 18 bulan lagi untuk uji klinis dan kesepakatan WHO untuk diproduksi secara massal. Bermunculan ide untuk mencegah penyebaran virus, antara lain cuci tangan dengan sabun dan air mengalir untuk membunuh renik. Gagasan lain social distancing (menjaga jarak sosial).

            Protokol medis yang dimaknai sebagai upaya mereduksi kebermaknaan sosial yang menancap kuat di masyarakat. Misalnya tradisi berkerumun dan berkomunikasi kolektif (jagongan/ bergerombol) yang tidak diizinkan. Pemerintah dengan cepat membentuk tim medis, rumah sakit darurat karena korban terpapar korona berjatuhan di mana-mana.

            Bagaimana dunia pendidikan ? Jawabannya “pontang-panting” tergegap-gegap, mengikuti arahan pemerintah. Proses belajar mengajar di kelasditutup, diganti Pengajaran Jarak Jauh (PJJ), murid dan mahasiswa di rumah saja.

            Perhatikan pendapat Said Irandoust (mantan Rektor Universitas Borus di Swedia). Ia mengatakan bahwa bidang yang paling cepat berkembang terletak di persimpangan dua profesi yang tampaknya tidak saling berkaitan. Contoh ilmu data (data science). Seorang ilmuwan data (data scientist) masih membutuhkan pengetahuan lain di bidang industri. Noam Chomsky adalah pakar teknologi, masuk di bidang linguistik (ilmu bahasa), menggagas mesin penerjemahan bahasa.

            Ilmu linear digugat oleh perkembangan multi disiplin, teori hibrida dan multi metode. Dunia pendidikan dan perusahaan telah memasuki kecerdasan buatan (Artificial Intelligent / AI). Kisah tetangga saya.mahasiswa UB Malang sudah akrab dengan laptop, bersahabat dengan internet, dan di rumahnya sudah ada Wifi. Kuliah daring macet, karena mahasiswi itusedang menjadi “fakir kuota”, butuh dana Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) pada hari itu.

            Hal-hal baru yang belum kita masuki amat banyak, misalnya pembangunan keterampilan (skill). Di bidang skill ada upaya peningkatan keterampilan (up skilling) dan pelatihan ulang keterampilan (reskilling). Kurikulum Baru Pendidikan Bahasa Indonesia (PBI – FKIP Unipa) akan membuka matakuliah baru cimematografi. Ada studi video dan film digital. Siapakah dosennya ???. Salah satu alternatif meniru Business Insider, perusahaan Apple, Geogle dan Netlix, tidak harus mencari pegawai yang bergelar sarjana, cukup praktisi di bidangnya. Seanalog dengan ini, PBI-FKIP Unipa bisa mengadakan kuliah Cinematografi (Studi Video dan Film) dengan dukungan instruktur IT / level   D.3 / praktisi Cinematografi.

            Hikmah Pandemi Covid-19, membuka cakrawala baru kolaborasi antar Perguruan Tinggi. (Prof. Dr. Henricus Supriyanto, M.Hum).

           



Connect with us:


Copyright © 2020 by Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Seluruh Isi Web Dilindungi Hak Cipta.

  • Akademik
  • SPP
  • PMB
  • Wi-Fi.id