opini

April 25, 2020

Triman Jr.Merebaknya wabah pandemic Covid19 lebih banyak disorot dari segi bahayanya dan orang lebih suka membahasnya dari segi kesehatan. Sebenarnya perilaku virus itu biasa saja. Secara alami pun akan mereda kembali menjadi normal seperti sediakala. Semua tahu virus itu bersifat in vivo (dapat hidup ditempat yang hidup). Karena itu sulit menggolongkan virus ke dalam makhluk hidup. Atau mungkin definisi konsep hidup dalam ilmu pengetahuan harus diubah. Tapi ada hal lain yang justru tanpa sadar kita telah mengubah banyak konsep pendidikan kita selama ini.

Pandemi Covid19 di bidang pendidikan mengharuskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengambil langkah yang tak pernah terpikirkan oleh Menteri sebelumnya. Ini sungguh beriringan dengan kontroversi di awal pengangkatan beliau yang dinilai oleh tokoh-tokoh perguruan tinggi terlalu ekstrim perubahan. Tapi begitu digelontorkan kebijakan Merdeka Belajar ditambah kondisi pandemic maka alasan-alasan klasik yang disampaikan beberapa guru besar tersendiri yang cukup menarik mengapa menteri pendidikan yang tradisinya diambil dari orang perguruan tinggi tapi kali ini tidak. Kata singkatnya orang perguruan tinggi terbelenggu pemikirannya pada hal-hal biasa. Padahal menghadapi masa depan, apalagi di era disruption dan juga milleneal, tidak mungkin menggunakan kebijakan atau cara-cara biasa.

Belajar di rumah menjadi menu keseharian siswa dan mahasiswa pada tiga bulan terakhir. Mungkin akan berlanjut sampai pertengahan tahun ini. Bahkan ada yang prediksikan sampai akhir tahun karena penuntasan pandemi. Kontroversi dan kritik  pun bertebaran. Namun faktor post major  tidak bias dibantah sehingga kebijakan itupun berjalan.

Banyak sekolah dan perguruan tinggi kelabakan dengan mendadaknya persiapan Belajar Di Rumah. Tak kurang banyak guru dan bahkan dosen sekelas doctor dan jabatan guru besar pun kelimpungan karena perubahan ini. Ini semua pasti terjadi namun Covid19 lebih mempercepatnya menjadi kenyataan.

Ke depan sekolah dan perguruan tinggi memang akan dan harus mengalami perubahan. Ini bukan lagi perubahan yang tanggung, tapi total dan revolusioner.

Ada tiga kunci yang menjadi fokus perubahan. Pertama, jabatan guru atau dosen menjadi jabatan biasa karena wujud akhir pendidikan adalah menghasilkan kemampuan apa. Siapa saja yang dapat menghasilkan lulusan dengan kualifikasi kompetensi tinggi maka layak disebut guru atau dosen. Ukurannya adalah luaran. Selama ini ukuran formalitas sangat menonjol. Padahal kita semua tahu hal-hal formal di negeri ini saat ini dapat diselesaikan secara subyektif.

Kedua, konsep organisasi pendidikan yang ada selama ini akan rontok. Kenapa harus ada Direktur Jendral, Direktur, Kepala Dinas, Kepala Bagian dan seterusnya yang sangat banyak dan  birokratik sehingga penyelesaian masalah bertele-tele dan pengambilan keputusan jadi lama. Tidak banyak yang dikerjakan tetapi banyak jabatan diadakan. Barangkali ini yang harus cepat diubah karena menghabiskan uang negara cukup banyak. Gaji, tunjangan, operasional, program, sarana prasarana dan lain-lain semuanya butuh anggaran. Intinya reformasi birokrasi pendidikan diperlukan. Sekolah tidak dikendalikan terus sampai hal teknis. Biarkan guru berkreasi dan berinovasi. Pasti bisa kalau mereka diberi ruang kebebasan yang cukup. Hampir cukup bukti bahwa tidak kreatifnya guru-guru di tingkat pendidikan dasar adalah karena terlalu dalamnya campur tangan birokrasi pemerintahan.

Ketiga yang paling sulit yaitu paradigma masyarakat tentang pendidikan (sekolah dan kuliah). Mengubah kunci ketiga ini butuh waktu yang cukup karena menyangkut aspek social yang kompleks.  Seperti sulitnya pemerintah mengatasi Covid19 ini. (3man)



Connect with us:


Copyright © 2020 by Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Seluruh Isi Web Dilindungi Hak Cipta.

  • Pmb Adi Buana
  • Promosi