Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

SERAH TERIMA: Penyerahan Surat Keputusan oleh Prof Dr Ir Suprapto DEA Kepala Lembaga Layanan Dikti (LLDIKTI) Wilayah VII kepada Prof Dr Iskandar Wiryokusumo, MSc Ketua PPLP PT PGRI Surabaya dan Drs Djoko Adi Waluyo ST MM DBA

 

SURABAYA- Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dengan bangga melaunching tiga program studi kesehatan sekaligus guna menjawab tantangan di era industri 4.0. Tiga prodi tersebut adalah Program Studi Sarjana Kebidanan, Pendidikan Profesi Bidan, dan Prodi Sarjana Farmasi. Acara launching berlangsung di Hotel Mercure (Mirama) Kamis, (1/ 11).

 

Launching tiga prodi ini ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan oleh Prof Dr Ir Suprapto DEA Kepala Lembaga Layanan Dikti (LLDIKTI) Wilayah VII kepada Prof Dr Iskandar Wiryokusumo, MSc Ketua PPLP PT PGRI Surabaya yang diteruskan pada Drs Djoko Adi Waluyo ST MM DBA Rektor Unipa Surabaya.

 

Dalam launching kali ini dihadiri oleh mitra Unipa seperti, Rumah Sakit Brawijaya Surabaya, Rumkital Ramlan (RSAL), Universitas Hang Tuah Surabaya, Universitas Wijaya Kusuma, dan dari gabungan pengusaha jamu.

 

Djoko AW mengungkapkan, saat ini animo untuk Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) lumayan banyak. "Khusus untuk prodi farmasi kami ingin mengembalikan atau semacam ada daya pembeda bahwa herbal bisa menjadi satu-satunya rujukan di Indonesia apabila dilihat dari keragaman hayati, kita mampu membuat farmasi bersensasi herbal,"terang Djoko.   

 

Menurut Djoko target di awal ini satu kelas dulu sebagai awalan, dan kami melakukan dari nol tahun artinya tidak menerima transfer, bila nanti pemerintah memberikan suatu otority untuk membuka transfer kami bersedia. Djoko menegaskan bahwa membuka suatu prodi salah satu syaratnya adalah memiliki Sumber Daya Manusia yang memadai, memiliki laboratorium yang memadai, jika tidak izin tidak akan turun dan Unipa telah memenuhi persyaratan tersebut bahkan lebih.

 

"Sebagai komitmen untuk mendirikan prodi ini kami mendirikan gedung berlantai empat, yang semuanya terintegrasi antara kebidanan dan farmasi, saat ini gedung tersebut sudah sampai pada tahap toping,"kata Djoko AW.

 

Selanjutnya, Prof Dr Iskandar Wiryokusumo, MSc Ketua PPLP PT PGRI Surabaya mengatakan, Unipa telah siap bahkan setelah launching untuk mahasiswa akan segera diproses sesuai dengan aturan yang berlaku. Saya yakin prodi ini masih sangat tinggi peminatnya karena memang peluang kerjannya sangat luas. Ia pun mengatakan, bahwa target yang akan dilakukan selanjutnya adalah mempersiapkan untuk fakultas kedokteran guna melengkapi Fakultas Ilmu Kesehatan yang ada di Unipa Surabaya.

 

 “Dengan perubahan ini, kami mempunyai tujuan ingin menghasilkan lulusan di bidang kesehatan yang unggul dalam taraf nasional dan mempunyai keunggulan di bidang komunitas dengan mengambil kearifan lokal yaitu dalam bidang herbal medicine dan herbal medication,”ujar Setiawandari, SST Mkes Dekan Fikes Unipa Surabaya. Menurutnya, dengan kearifan lokal nantinya para lulusan dapat kembali kemasyarakat untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di masyarakat. “Tentunya, ini didukung dengan kualifikasi dosen yang sesuai dengan bidangnya masing-masing, selain kami memiliki spesialis dokter kandungan, dan spesialis anak,”terang Setiawandari.

 

Dekan Fikes tersebut menambahkan, bahwa saat ini jumlah mahasiswa yang dimiliki masih sesuai dengan rasio antara dosen dan mahasiswa. Untuk menunjang keunggulan, telah disiapkan laboratorium obat tradisional (batra) selain itu ada laboratorium INC (Intranatal Care) atau persalinan, ANC (Antenatal Care) atau kehamilan, PNC (Postnatal Care) atau nifas, KB / KESPRO (Keluarga Berencana/ Kesehatan Reproduksi), Neonatus, dan bayi dan anak. Sementara laboratorium farmasi terdiri atas laboratorium farmasetika, kimia farmasi, anatomi farmakologi, botani farmakognosi, microbiologi, hewan, bahasa inggris dan komputer. Hal ini diharapkan lulusan Fikes Unipa dapat terserap di rumah sakit, puskesmas, praktik mandiri, apotek, perusahaan kimia farma, dsb.

 

"Keberadaan program studi ini sekaligus menjadi jawaban atas kebutuhan.Perbedaan Sarjana Kebidanan dan Profesi Bidan berbeda dengan Pendidikan D3 Kebidanan yang berstandar vokasi karena di vokasi mereka hanya mampu bekerja sesuai dengan standar SOP yang sudah baku. Namun, dengan Sarjana Kebidanan baik itu profesi bidan diharapkan dapat memiliki peningkatan dari segi kemampuan menganalisa, mencari keputusan yang terbaik, menetapkan keputusan dan bertindak sesuai keilmuan yang lebih dalam. Dengan adanya upgrading dari KKNI dari lima menuju ketujuh diharapkan nanti tidak terjadi ketimpangan antara bidan dan dokter kandungan sehingga bisa menjadi mitra yang sejajar,”terang Tetty Rihardini SST Mkeb Ketua Program Studi Kebidanan Unipa.  

 

Menurutnya, secara global kebutuhan bidan di Indonesia yang profesional masih sangat dibutuhkan, karena masyarakat sangat berkembang menghadapi era industri 4.0 oleh karena itu kami menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan analitis mampu berpikir kritis, dan termasuk dalam hal keputusan.

 

Senada dengan Tetty, Tamara Gusti Ebtavanny, S Farm Mfarm Apt Kaprodi Farmasi Unipa juga mengatakan, Prodi Sarjana Farmasi di Unipa untuk menjawab kebutuhan dari masyarakat akan tenaga teknis kefarmasian dan apoteker yang dengan seiring berkembangnya rumah sakit, industri baik obat maupun kosmetika kebutuhan tenaganya juga semakin berkembang. Menurutnya, kekhususan prodi ini pada pengembangan herbal medicine  yaitu obat tradisional di mana Indonesia memiliki potensi alam yang luar biasa namun belum banyak pemanfaatannya. Diharapkan dengan ilmu dan teknologi potensi alam Indonesia dapat tergali dengan baik dan mempunyai nilai jual yang lebih baik.

 

Dalam launching yang berlangsung di Hotel Mercure tersebut dibanjiri dengan papan bunga ucapan selamat dari berbagai teman sejawat, salah satunya adalah dari Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Dr Unifah Rosyidi MPd.

 

 


  • Akademik
  • Humas