Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

Surabaya- Sudah saatnya perguruan tinggi melakukan perombakan dalam menyiasati era digital yang semakin merajalela bahkan menjamur di kalangan masyarakat. Untuk itu,

Fakultas  Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya menggelar seminar nasional dan oral presentasi yang bertajuk "Prospek Pendidikan Profesi Bidan oleh Perguruan Tinggi Kesehatan Jelang Era Disrupsi" di Gedung Soelaiman Joesoef  Unipa Dukuh Menanggal, (Sabtu, 10/3).

 

Dalam seminar ini menghadirkan empat narasumber yang berkompeten dibidangnya, yakni Dr.  Emi Nurjasmi, M. Kes Ketua PP Ikatan Bidan Indonesia,  K. Kasiati,  S.Pd., M.Kes Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND) Jawa Timur,  Dr.  Widyo Winarso, M. Pd Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah VII, dan Dr. Hartono, M.Si Wakil Rektor 1 Unipa Surabaya.

 

Seminar yang diikuti 206 peserta ini mendapat apresiasi positif dari Drs. Djoko Adi Waludjo, ST., MM., DBA Rektor Unipa Surabaya sebagai wujud kepekaan terhadap sebuah perubahan yang harus diterima. Para peserta ini datang dari berbagai Institusi Pendidikan Kebidanan, antara lain Akbid Griya Husada,  Akbid Williambooth,  Unusa,  Poltekes Kemenkes Bangkalan,  Poltekes Kemenkes Surabaya, Unipdu Jombang,  RS Haji,  RS Suwandi,  RS Prima Husada,  Puskesmas Jagir, dan Ikatan Bidan Indonesia Daerah Jawa Timur 

 

"Ini memang Pekerjaan Rumah (PR) yang harus segera diselesaikan karena pendidikan kesehatan di era digital menuntut profesionalitas dan kompetensi bidan yang melek terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK),"terang Kasiati Ketua AIPKIND Jatim. Menurutnya, masih banyak hal yang harus dipersiapkan perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan, diantaranya pengembangan kurikulum, pembelajaran dalam jaringan (daring), dan persiapan sarana dan prasarana yang juga digital karena ini yang membantu meningkatkan kompetensi bidan sendiri.

 

Ia mengatakan, era digital memang sebuah tantangan tetapi ini tidak lepas dari peran pendidikan. Harus berani keluar dari zona nyaman karena dituntut untuk Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat).  Kasiati mengatakan bahwa bidan profesi sendiri bukan paramedis atau pembantu medis tetapi sebagai mitra yang mana harus bisa memberikan kontribusi di dalamnya.

 

Di sisi lainnya, bidan harus bersiap-siap untuk menghadapi kenyataan di tahun 2025 terkait peraturan pemerintah bahwa bidan wajib memiliki ijazah profesi agar bisa menyelenggarakan praktik mandiri. Selain itu juga harus bersiap pula menghadapi tahun 2030 yang mengharuskan bidan mengantongi ijazah S1 atau sarjana.

 

Dalam seminar ini, juga menghadirkan 14 pemakalah yang memberikan paparan terkait tema yang diusung yakni Prospek Pendidikan Profesi Bidan oleh Perguruan Tinggi Kesehatan Jelang Era Disrupsi. Menariknya lagi, sejumlah pemateri yang diundang sebagai narasumber acara ini juga mendapat kehormatan melakukan penanaman pohon di taman pejabat sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, ini adalah salah satu budaya yang diterapkan untuk menghargai para tamu yang datang berkunjung ke Unipa Surabaya.

 

 

 

 


  • Akademik
  • Humas