Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

FOTO BERSAMA: Dr. Santika Rentika Hadi, M.Kes (tengah) foto bersama dengan para dewan penguji usai sidang terbuka doktor di Universitas Airlangga

 

Surabaya- Salah satu penyebab kematian terbesar di dunia disebabkan oleh penyakit jantung. Sebagian besar kematian ini disebabkan oleh Sudden Cardiac Death (SCD). Sejak tahun 1994 hingga 2014 kematian akibat SCD mencapai 3.684 orang. Fenomena ini yang membuat Drs. Santika Rentika Hadi, M.Kes dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya mengangkat masalah ini dalam disertasinya. Kamis, (22/2).

 

Dalam disertasinya, ia mengangkat judul Pengaruh Detraining terhadap Pola Ekspresi HSP60 dan HSP70 pada Sel Otot Jantung Rattus Norvegicus Wistar. Penelitian ini untuk mengamati pola perubahan ekspresi HSP60 dan HSP70 dengan menggunakan model tikus selama latihan dan detraining. Menariknya, dalam penelitian ini Santika harus berjuang untuk melatih 70 ekor tikus jantan untuk menjadi atlet walupun secara alamiahnya tikus sudah bisa berenang. Menurut Santika, ia ingin fokus menggunakan tikus jantan supaya lebih homogen karena tikus betina memiliki perbedaan hormonal.

 

Santika mengatakan bahwa profesi atlet dan anggota militer berisiko 30-40% lebih tinggi meninggal akibat SCD dibandingkan dengan profesi lain dan kematian ini 92% ditemukan pada jenis kelamin pria berusia rerata 29 tahun.  Jumlah kematian akibat SDC ditemukan pada 357 orang dari 3.684 orang yang melakukan aktivitas olahraga teratur, tiga kali seminggu. Sebagian besar yang lain meninggal justru pada saat tidak melakukan aktivitas olahraga, misalnya jeda antar kompetisi, berhenti berlatih akibat cidera, dan pensiun sebagai atlet.

 

"Olahragawan yang mengalami fase tidak berolahraga disebut mengalami detraining,"terangnya. Detraining mengubah anatomi fisiologi otot jantung mengarah pada penurunan daya pompa darah keluar dari jantung (cardiac output). Menurutnya, penipisan lapisan otot jantung ditemukan pada tikus yang memperoleh perlakuan detraining setelah latihan intensif selama 3 minggu, di sini otot jantung tikus mengalami opoptosis sehingga jumlah sel otot jantung berkurang. "Apoptosis yang ditemukan pada tikus detraining diduga dipicu oleh aktivitas protein pro apoptosis (Bax), HSP60 proapoptosis, di dalam sel HSP60 akan mengikat bax untuk menjaganya tidak lepas mengaktifkan caspase-9 dan jalur kematian sel,"terangnya.

 

Santika menjelaskan penelitian yang dilakukan untuk menjelaskan pola perubahan ekspresi HSP pada model hewan coba yang mengalami detraining dan latihan secara periodik jangka panjang serta keterkaitannya dengan Reactif Oxigen Species (ROS) terhadap gangguan otot jantung.

 

Dari hasil penelitiannya, ada 7 temuan baru yang diperoleh, diantaranya molekul HSP60 dan HSP70 berperan dalam meredam aktivitas negatif dari ROS yang ditunjukkan melalui ekspresi MDA pada otot jantung, latihan fisik dengan intensif 60-80% dari kapasitas kerja maksimal selama 6 minggu meningkatkan ekspresi HSP60 dan HSP70 sebagai respons dari peningkatan aktivitas ROS yang diamati melalui ekspresi MDA pada otot jantung, jeda latihan (detraining) selama 4 minggu menyebabkan kondisi jantung kembali pada kondisi tidak terlatih (kelompok normal) memungkinkan terjadinya gangguan jantung saat dilakukan aktivitas intensitas tinggi, dan lain sebagainya.

 

Di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, penelitian dosen Unipa Surabaya ini mendapat respons positif dari para dewan penguji. Sebagai bentuk apresiasi ia dianugerahi gelar doktor ilmu kesehatan dengan predikat sangat memuaskan. Dengan demikian, Unipa Surabaya kembali dianugerahi doktor lagi di prodi PKO. (*)

 

 

 


  • Akademik
  • Humas