Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

NARASUMBER: Prof. Kieron Sheehy, Ph.D dari (Open University, UK) saat menyampaikan materi pendidikan inklusif.

 

Surabaya- Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) masih memerlukan perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. Mereka juga memiliki kesempatan yang sama dengan anak normal bahkan dalam layanan pendidikan, selain di Sekolah Luar Biasa (SLB) juga bisa di Sekolah Inklusi. Hal inilah yang mendasari Program Studi Pendidikan Khusus Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya menggelar seminar Pendidikan Inklusif tentang “Kebijakan, Praktik, dan Budaya”. Acara ini dibuka langsung oleh Rektor Unipa Surabaya Drs. Djoko Adi Waludjo, ST., MM., DBA, kemarin.

Seminar internasional tersebut menghadirkan tiga narasumber dari dalam dan luar negeri, yakni Prof. Kieron Sheehy, Ph.D dari (Open University, UK), Prof. Hideo Nakata, Ph.D (Tsukuba University, Japan), dan Dr. Sujarwanto, M.Pd (Dekan FKIP Unesa). Banyak pengetahuan yang disajikan terkait inklusi di berbagai negara oleh Prof. Kieron. Seperti Amerika, inklusi sangat terpisah atau jauh dari kehidupan yang mana dibedakan oleh warna kulit, di Inggris, inklusi dibuat seperti pondokan atau sekolah sore, sedangkan di Jepang  sistem inklusi menggunakan special education yang mana guru bisa mengajar di formal dan inklusi.

“Ada 10 (Sepuluh) negara yang sudah menerapkan Sekolah Inklusi termasuk negara Finlandia. Dalam hal ini, peran guru yang paling penting apa pun sistem yang diterapkan,”tambahnya. Prof. Nakata memfokuskan pada tips untuk guru yang mengajar di Sekolah Inklusi. Sementara Sujarwanto menekankan pada problematika pendidikan inklusif, seperti pendidikan inklusif bagi ABK belum dipahami sebagai upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan, kualitas guru yang belum memadai atau belum sensitif terhadap kebutuhan ABK, masih terjadi kesalahan praktik bahwa target kurikulum ABK sama dengan siswa lainnya serta anggapan bahwa siswa cacat tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menguasai materi belajar dan lain-lain.

Sementara itu, Djoko Rektor Unipa, pihaknya menegaskan bahwa universitas di mana pun harus in line dengan isu-isu mendunia termasuk isu tentang disabilitas yang tidak boleh ada diskriminasi. Sebagai prodi paling muda di Unipa, Pendidikan Khusus telah melaksanakan tugasnya selain menyelenggarakan pendidikan reguler juga melakukan seminar dan workshop yang menggandeng guru-guru, mahasiswa, dan dosen. “Hal ini merupakan debut awal yang positif,”kata Rektor Unipa ini.

“Bahkan sekarang ini ada persyaratan bahwa perguruan tinggi harus mendisain tempat kuliahnya untuk bisa menampung dan memberikan akses kepada kawan-kawan disabilitas. Terkait kebijakan ini, Unipa sedang berproses untuk bisa memberikan fasilitas tersebut,”terangnya.

Pendidikan inklusi di perguruan tinggi Jatim sudah berjalan, tetapi kendati sebelum kebijakan ini muncul, Unipa sudah menjalankannya. Unipa telah menerima dan meluluskan mahasiswa yang memiliki keterbatasan bicara atau (tunawicara) di prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tata Rias, saat ini dia telah sukses menjadi desainer di Kota Surabaya ini,”terang Djoko.

Salah satu peserta seminar Maulidini Trisnawati seorang Guru dari SLB Cinta Ananda Sumenep mengatakan, kegiatan seminar seperti sangat diperlukan untuk mengupdate pengetahuan terkait pendidikan iklusi baik di dalam maupun di luar negeri. Saat ini di Indonesia baru kota besar yang berjalan tetapi untuk di daerah-daerah masih belum terlaksana program ini. Untuk itu, masih banyak diperlukan guru-guru yang memang linier di bidang ini. (rm23)


  • Akademik
  • Humas