Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

SIMBOLIS: Rektor Unipa Surabaya Drs. Djoko Adi Waludjo, ST., MM., DBA  memberikan Wayang Gatotkaca kepada dalang cilik Bayu Wiyan Wijaya.

Surabaya- Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya membuka kursus pedalangan dalam rangka menciptakan seniman pedalangan yang profesional yaitu Dalang yang memiliki keterampilan, kreatif, berwawasan luas serta mempunyai daya saing yang tinggi. Peresmian pembukaan kursus tersebut dilakukan oleh Rektor Unipa Surabaya Drs. Djoko Adi Waludjo, ST., MM., DBA di Gelora Hasta Brata Adi Buana, Rabu (3/5).

Menurut Djoko AW, di Jawa Timur perlu adanya sebuah pendidikan dan pembelajaran seni pendalangan yang terprogram, sistematis, didukung oleh tokoh-tokoh dalang dan pengajar dengan kualifikasi empu serta dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Dengan alasan inilah Unipa Surabaya bekerjasama dengan institusi terkait maupun perorangan yang peduli untuk menyelenggarakan pendidikan dan pembelajaran seni pedalangan yang berorientasi profesional.

Upaya ini juga sebagai langkah untuk menjawab pertanyaan yang sering muncul bahwa Seniman Dalang Jatim kurang kreatif dan kurang memiliki daya saing. Kursus pedalangan di Unipa sebagai studi lanjut dari lulusan SMK atau Sekolah Menengah Seni jurusan pedalangan khususnya dan seniman muda yang berminat. Pendidikan kursus pedalangan bisa ditempuh selama 2 semester atau setahun dengan pembagian semester 1 ditekankan pada mata pelajaran yang bersifat teoritik dan semester 2 untuk mata pelajaran yang bersifat praktis.

Sementara itu, Drs. Pungut Asmoro, ST., MT Ketua Pelaksana Acara, pihaknya menyampaikan langkah pewujudan kepedulian seni budaya telah ditunjukkan oleh warga Unipa Surabaya melalui didirikannya grup seni tradisi di dalam kampus seperti orkes keroncong, pengadaan seperangkat gamelan pelog-slendro untuk mendukung seni karawitan, pengadaan seperangkat wayang kulit dan piranti pakeliran, dan didirikan pusat studi Budaya Nusantara serta kursus pedalangan yang mulai dibuka pada hari ini.

Guna mendukung kursus pedalangan ini, Unipa telah mempersiapkan fasilitas yang memadai seperti mini studio atau ruang teater, gamelan pelog, wayang Jawa Tengahan, Kelir Wayang Lengkap, dan pagelaran besar di Gelora Hasta Brata. Kursus ini didukung grup karawitan “Swara Buana” Unipa,” tambahnya.

Pada kesempatan ini, pementasan cuplikan Pakeliran Wayang Kulit lakon Gatotkaca oleh dalang cilik Bayu Wiyan Wijaya seorang siswa kursus pedalangan asal SDN Dukuh Kupang V Surabaya dan juga  gelar seminar budaya mengenai “Wayang Kulit Sebagai Media Dakwah Islam Oleh Walisongo” yang menghadirkan KH. Ngabehi Agus Sunyoto Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin atau (LESBUMI) NU dan Dr. Sunu Catur Budiono, M.Hum dosen Unipa sebagai narasumber.

Wayang yang kita saksikan seperti saat ini merupakan inovasi dari wayang beber yang dilakukan oleh Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Cerita yang dilakonkan juga inovasi dari naskah-naskah kuna adalah  garis besar materi KH. Agus Sunyoto. Sementara Sunu Catur menyampaikan terkait wayang sebagai media dakwah wali songo sebagai sebuah sketsa spekulatif.


  • Akademik
  • Humas