Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

UNJUK KARYA: Dimas (tengah) didampingi Herman Sugianto dan peserta workshop tunjukkan hasil seni cukil

Surabaya- Himpunan Mahasiswa Seni Rupa (HIMA SERA) Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya menggelar workshop Seni Grafis “CUKIL” atau seni cetak tinggi yang bekerjasama dengan Komunitas Mata Rantai. Workshop ini berlangsung dua hari di Gedung Seni Rupa Unipa Surabaya, Sabtu, 29-30 April 2017.  Diikuti sebanyak seratus peserta dalam dan luar Unipa Surabaya. CUKIL sebagai karya seni rupa yang menggunakan teknik dengan alat cukil(wood carving)  dengan media hard board  dan kertas PVC yang bisa diterapkan pada kaos atau kertas.

Workshop ini menghadirkan Dimas Praktisi atau seniman cukil Surabaya sebagai narasumber utama. Dalam workshop peserta diajarkan bagaimana membuat karya dengan teknik cukil. Hari pertama, peserta dikenalkan dengan sejarah cukil, alat cukil, teknik pembuatan karya cukil dari awal sampai finishing. Hari keduanya, setiap peserta diwajibkan untuk praktik membuat karya dengan cukil.

Tujuan kegiatan ini digelar selain sebagai pengisi SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah) juga sekaligus untuk membentuk skill  mahasiswa dan memperkenalkan teknik cukil yang merupakan salah satu bagian karya seni rupa yang sudah dipamerkan,”ungkap Herman Sugianto, SPd., MPd dosen Unipa Surabaya.

Herman mengatakan, seni cukil ini merupakan karya seni fenomenal, yang membedakan dengan karya seni lukis dan karya lainnya, seni cukil lebih terkesan tegas dan kaku akan tetapi itulah nilai estetika seni cukil yang sebenarnya. Untuk itu, HIMASERA Unipa Surabaya berupaya keras untuk lestarikan seni cukil ini, dengan menggelar workshop secara rutin selain masuk dalam mata kuliah. Selain itu, hasil karya dari mahasiswa ini nantinya akan dipamerkan.

Banyak yang beranggapan kalau seni ini bisa dilakukan mereka yang pandai gambar, anggapan itu salah besar, bukan gambarnya tapi cukilnya yang penting“kata Dimas jebolan sekolah alam raya tersebut. Seni ini bisa dilakukan bagi mereka yang tidak bisa gambar sekalipun karena di cukil itu butuh imajinasi dan kesabaran saja.

Dimas mengatakan, kebanyakan kesalahan itu pada waktu mencari pencahayaan karena di cukil yang dibutuhkan putihnya yang nampak dari gambar dasarnya setelah diberikan cat offset warna hitam. Sambil menunjukkan teknik yang benar Dimas memberikan tips cukil yang benar agar tidak terjadi cidera. Menurutnya hal fatal yang sering terjadi pada posisi tangan, tekniknya, di depan alat tidak boleh ada halangan apa pun, posisi tangan harus sejajar, tangan kanan untuk mendorong dan tangan kiri sebagai rem dan arah, jangan terlalu dalam kurang lebih 1 mili kedalaman cukil supaya saat diberi tinta hitam putihnya kelihatan.

Menurut seniman dari Mata Rantai tersebut, di Jatim peminatnya jarang sekali, ibarat wayang yang sudah mulai ditinggalkan karena dianggap seni kuno, kalah dengan teknologi, dan proses pembuatan lama. Padahal seni ini bisa bersaing dengan karya lainnya.

Senang sekali Unipa Surabaya memberikan ruang bagi seniman cukil seperti kami,”kata Dimas. Unipa adalah pencetak guru maka harapan besar nantinya ini bisa dikenalkan dan diajarkan di tingkat SD, SMP atau SMA agar seni ini bisa lestari,”ungkapnya. (*)


  • Akademik
  • Humas