Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

PAPARKAN MATERI: Prof. Ir. Daniel M. Rosyid saat memberikan materi tentang Strategi Industri Kerakyatan di Seminar Nasional LPIK Unipa.

 SURABAYA – Tingkat kemiskinan di Jawa Timur yang telah mencapai angka 5,6 juta penduduk tak lantas membuat pemerintah berpangku tangan melihat hal tersebut. Dengan jumlah pengusaha yang hanya sebanyak 320.000, sistem ekonomi kerakyatan hasil pemikiran Mohammad Hatta tersebut dinilai mampu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Dari hasil ekonomi kerakyatan yang memang sebagian besar diusahakan atas swadaya masyarakat, muncullah industri kerakyatan seperti Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di lingkup ini. “Sebagai yang juga menopang perekonomian nasional, kini industri tak hanya milik perusahaan besar saja. Namun telah dikuasai oleh industri-industri kecil yang kini telah menjamur di masyarakat. Misalnya UKM-UKM,” ujar Prof. Ir. Daniel M. Rosyid saat memberikan materi tentang Strategi Industri Kerakyatan di Seminar Nasional Lembaga Pemberdayaan Intelektual dan Kajian-Kajian (LPIK) Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya, Kamis (27/4).

 

Selain banyaknya UKM, Prof. Daniel menambahkan jika kini telah banyak sekolah maupun perguruan tinggi yang telah mengadakan pembelajaran mengenai kewirausahaan untuk mencetak pengusaha-pengusaha baru. “Bagi mereka yang kurang beruntung tidak mengenyam bangku perkuliahan, kita perkuat di lembaga-lembaga non formal. Sehingga ketika mereka telah lulus sekolah, mereka dapat terjun langsung ke industri kerja. Jadi, sekolah tidak hanya teoretis saja tetapi juga wadah untuk menyalurkan bakat,” tambahnya. Selain mendatangkan Prof. Daniel M Rosyid, Ph.D dari ITS sebagai narasumber, pada seminar nasional dengan tajuk “Iptek untuk Industri Kerakyatan”, LPIK juga mengundang lima narasumber dari Unipa Surabaya. Yaitu Drs. Djoko Adi Waludjo, ST., MM., DBA, Dr. Ir. Pungki Slamet, Dr. Suning, SE., MT, Dr. Untung Lasiyono, SE, M.Si, dan Dr. Tatang Sopandi MS.

 

Pada sesi pertama, Dr. Untung Lasiyono, SE, M.Si yang membawakan materi tentang Konsep Ekonomi Pemasaran Produksi Kerakyatan dan Dr. Tatang Sopandi MS dengan materi Teknologi Pengolahan Pasca Panen Produksi Kerakyatan.Dalam penyampaian materinya, Untung banyak menyorot tentang manfaat media sosial ketika memasarkan sebuah produk. Hadirnya beragam media sosial, seperti instagram maupun facebook dinilai lebih memudahkan pengusaha maupun pembeli. “Meski pemasaran dipermudah dengan hadirnya sosial media, namun mutu harus tetap dijaga,” himbaunya. Selain itu, kreatifitas dalam menghadirkan suatu produk juga penting. “Jangan karena lagi musim jualan ini semuanya jadi ikut jualan. Karena di industri kerakyatan sendiri haruslah bervariasi,” tambah Untung.

 

Saat ditemui di sela acara, Ketua LPIK Unipa Surabaya Prof. Dr. H. Gempur Santoso, M.Kes mengungkapkan bila industri kerakyatan yang merupakan tema besar pada seminar nasional tersebut merupakan sebuah ide agar Indonesia dapat terlepas dari tiga hal. Yaitu pengangguran, kemiskinan, dan disparitas atau kesenjangan ekonomi. “Oleh karena itu sebagai langkah turut serta dalam mensukseskan industri kerakyatan serta menciptakan young entrepreneur, Unipa mengadakan mata kuliah kewirausahaan. Dan juga melakukan pengembangan produk baik dari dosen maupun mahasiswa, agar dapat dimanfaatkan oleh usaha-usaha kecil yang sedang membutuhkan,” ujarnya.

 

Pada kesempatan tersebut, Djoko AW Rektor Unipa Surabaya juga menegaskan bahwa Unipa sendiri mempunyai banyak karya terutama industri-industri untuk teknologi tepat guna, bahkan sudah ada yang dipatenkan. Salah satunya, karya Pungki Slamet dosen Unipa Surabaya yang juga salah satu narasumber di seminar nasional ini yakni laser yang berfungsi untuk memperbanyak pembibitan. “Harapannya, hasil karya ini nantinya bisa dinikmati masyarakat bukan hanya sekadar eforia keilmuan saja,”tambah Djoko.


  • Akademik
  • Humas