Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

LEMAS: Prosesi pengambilan darah yang dilakukan oleh tim ahli dari PMI Surabaya kepada pendonor.

 

SURABAYA- Rasanya tidak ada yang sia-sia, asal semua dilakukan atas dasar ikhlas. Donor darah merupakan agenda tiap tahun dalam diesnatalis Unipa Surabaya tetapi dari tahun ke tahun tersebut antusiasme dari warga kampus tetap luar biasa dan perlu mendapat acungan jempol. Setetes darah kita merupakan sumbangsi sebagai manusia yang perduli dengan sesama. Hal itu, diungkapkan Dyah HP dalam upacara pembukaan di kampus II Menanggal, Rabu (14/5).

Menurut Lili petugas dari PMI Surabaya, mengucapkan terima kasih karena Unipa Surabaya tetap konsisten dalam melakukan kerjasama dengan PMI. Semoga, Unipa dapat menjadi virus yang positif sehingga lebih banyak lagi yang tertarik untuk ikut berpartisipasi. Seperti yang kita ketahui donor darah  merupakan amal yang mulia, sekaligus dapat menyehatkan tubuh kita. Untuk itu baik halnya jika dilakukan secara rutin. PMI Surabaya akan sangat senang jika Unipa Surabaya lain waktu memunyai plan untuk diskusi kesehatan maka PMI Surabaya akan memberikan wadah tersebut.” Tegas Teguh Humas PMI Surabaya.

Sementara itu, Eli panitia kegiatan ini menambahkan, kegiatan donor darah ini diselenggarakan di dua tempat yaitu kampus II di Gedung Kebidanan dan kampus I di Ruang Humas. Acara ini serentak yang akan berlangsung selama sengah hari mulai dari Pkl.  07.00 s.d. Pkl 12.00 waktu setempat. Hal ini dikarenakan kualitas darah manusia masih baik pada waktu tersebut karena suhu penyimpanan darah juga sangat berpengaruh terhadap kualitas darah para pendonor.

Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri alumni pendiri KSR seperti Erwin Prananta dan siswa dari SMA Institut Taruna Pembangunan (ITP) mereka datang di dampingi guru kelasnya. “Terang Nurul ketua pelaksana kegiatan donor darah. Dari hasil rekapan di dua tempat ada sekitar 200 peserta yang mendaftar untuk donor darah. Tetapi yang lolos hanya 56 orang. Hal ini disebabkan karena haemoglobin yang rendah, sakit ringan yang di derita pendonor, dan juga berat badan yang  kurang dari 46 kg. Apa yang mereka lakukan merupakan hal yang perlu diberi apresiasi karena nanti ketika mau mendonorkan darahnya sudah tahu syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi.” Tukas Erwi Prananta.  (rohma)


  • Akademik
  • Humas