Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

Program sertifikasi guru yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selama beberapa tahun terakhir ternyata menyisakan sepenggal kisah yang memberikan dampak negatif terhadap guru maupun lembaga penyelenggara sertifikasi guru. Dalam proses verifikasi telah di temukan kecurangan dari beberapa oknum guru yang menggunakan ijazah palsu. Oleh karena itu, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya akan mengusut kasus ini sampai akarnya. (10/2)

SERIUS: suasana rapat klarifikasi ijazah palsu peserta sertifikasi guru rayon 142 Univ. PGRI Adi Buana Surabaya. 

 Sebanyak 14 guru yang terbukti sebagai pengguna ijazah palsu kembali dipanggil untuk klarifikasi mengenai asal muasal ijazah palsu yang digunakan untuk mengikuti program sertifikasi guru tahun 2013. Kemarin,  dalam klarifikasi lanjutan, juga hadir Ketua PGRI Jatim H. Ikhwan yang mendukung penuntasan kasus ini.

Sementara itu, Hartono Wakil Rektor I Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, mengungkapkan mengenai surat Inspektorat Jenderal perihal pengaduan masyarakat. Isinya memohon agar Rektor memberikan klarifikasi mengenai 10 guru yang menggunakan ijazah palsu, serta surat pernyataan di atas materai tertanggal 27 Desember 2013 bahwa Unipa Rayon 142 telah menerima sebanyak 4520 berkas calon peserta PLPG yang meliputi Kabupaten Lamongan, Sampang, Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep, dan telah terjadi pemalsuan ijazah yang di lakukan oleh beberapa oknum guru yang akan mengikuti PLPG, serta ijazah palsu tersebut ditemukan saat dilakukan verifikasi dokumen. Tindak lanjut dari kasus ini yaitu pelaporan kepada aparat penegak hukum. Guru tersebut terdiri dari guru sekolah dasar dan guru pend. anak usia dini (Paud) di wilayah kerja Dinas Kabupaten Provinsi Jatim.

Pada 30 Januari 2014 kemarin, panitia PLPG Rayon 142 Unipa Surabaya dan LPMP Jatim membuat kesepakatan bahwa PLPG 2014 akan lebih di tertibkan lagi mengenai verifikasi dokumen, agar dapat menghasilkan guru profesional sebagaimana yang tertera pada sertifikat pendidik,”tukas Hartono.

Wakil Rektor III Unipa Surabaya, Pungut Asmoro menambahkan, agar peserta yang terbukti menggunakan ijazah palsu dapat bekerja sama untuk mengungkapkan darimana  asal ijazah tersebut di peroleh karena informasi tersebut dapat memudahkan gerakan kami agar jaringan ini bisa segera di ungkap. Selain itu, kasus ini juga membawa dampak pada kekecewaan alumni Unipa Surabaya.

Menurut H. Ikwan, apa yang sudah terlanjur terjadi dijadikan pelajaran, “harapan dari pertemuan ini bisa membantu Unipa Surabaya untuk menemukan sindikat pemalsu, Apabila sindikat ditemukan maka akan jelas beban guru, apakah  guru sebagai pengguna atau pemakai. Oleh sebab itu,  apabila guru sebagai pengguna maka sanksi yang di peroleh tidak terlalu berat sampai pada pemecatan. (rohma)


  • Akademik
  • Humas