Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

Pembukaan- Rektor Unipa Dr Subandowo MS saat membuka acara pelatihan perseptor mentor pembimbing praktik klinik profesi bidan di hotel Neo.

 


Surabaya – UNIPA NEWS Guna meningkatkan kualitas pembimbing klinik dalam melaksanakan tugas pembimbingan, Program Studi Kebidanan Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya menyelenggarakan Pelatihan Perseptor-Mentor Pembimbing Praktik Klinik Profesi Bidan di Hotel Neo Sidoarjo, Senin (13/1). 


Kegiatan yang berlangsung dua hari tersebut, diikuti oleh perwakilan dari beberapa rumah sakit, puskesmas, dan bidan praktik mandiri di wilayah Surabaya dan Sidoarjo. Acara dibuka langsung oleh Rektor Unipa Surabaya Dr Subandowo MS.


Pada kesempatan ini, dia menginginkan adanya kolaborasi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman sehingga pelatihan ini bisa disambut gembira sesuai kebutuhan pentingnya kesehatan.  Menurutnya, pendekatan psikologis sangat penting selain tindakan misalnya komunikasi dengan pasien harus dengan bahasa hati, sehingga bisa terjalin komunikasi yang efektif. 


Pihaknya mengatakan, profesi bidan tidak hanya penanganan pada saat mengandung, melahirkan, atau menurunkan angka kematian tetapi ke depan profesi kebidanan harus berkembang seiring perkembangan teknologi, misal dilakukan pemijatan, akupuntur dan tindakan lainnya sehingga kualitas bayi lebih bagus dan secara alamiah akan tumbuh dengan baik. "Dan Unipa akan berusaha memenuhi itu semua sesuai dengan perkembangannya," tambah Subandowo. 


Sementara itu, Tetty Rihardini SST MKeb Ketua Program Studi Kebidanan Unipa menerangkan, di tahun 2025 profesi bidan harus sarjana, sehingga persiapan itu dimulai dari sekarang. Kali ini, kami kerjasama dengan Asosiasi Institusi Pendidikan Kebidanan Indonesia (AIPKIND). 


Melalui pelatihan ini diharapkan mereka bisa lebih siap dan profesional dalam membimbing mahasiswa untuk praktik klinik di rumah sakit, sehingga nantinya bisa menghasilkan lulusan bidan yang profesional dan berkualitas dalam pelayanan," terang Tetty.


Tetty berharap, pelatihan ini bisa memberikan persamaan persepsi apa yang diajarkan dikampus dengan yang di terapkan di pelayanan kesehatan di kebidanan itu sama, sehingga pembimbingan kami di kampus dengan di klinik itu searah.


“Sehingga mahasiswa tidak bingung, selama ini ada dua kubu yang berbeda, kubu pedidikan yang seluruh teoritis di terapkan sedangkan dipelayanan ada keterbatasan. Dengan keterbatasan yang unik tidak bisa di samakan improvisasi,” ujarnya.


Hal ini tidak sesuai dengan teori yang lurus, sehingga harus dibelokkan sedikit dengan pendekatan sikososial pada pasien yang tentunya akan membingungkan mahasiswa kalau tidak disiapkan pembimbingannya terlebih dahulu.


“Insyaallah dengan adanya persamaan persepsi, teori serta praktikum yang kami praktekkan nanti, menjebatani supaya situasi pendidikan profesi bidan lebih kondusif jadi akan lebih terbuka kemungkinan untuk membuka ilmu sebanyak-banyaknya, sehingga standart bidan diharapkan bisa tercapai,” ungkapnya.


  • Akademik
  • Humas