Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

 

Surabaya – Mengenalkan lebih dalam terkait tentang pentingnya kekayaan intelektual, Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya menggelar seminar nasional dan workshop kekayaan intelektual (KI), yang di gelar di Kampus II menanggal. Sabtu (2/11).


Rektor Unipa Surabaya Drs Djoko Adi Walujo ST MM DBA mengatakan, pada dasarnya manusia membutuhkan suatu keadilan, keadilan berkreasi, seorang yang kreatif itu layaknya mendapatkan respon positif sebuah legalitas atau  proteks.


“Maka muncul juga institiar proteksia bagaimana orang memprotek, sehingga karya yang kreatif tadi menjadi suatu kekayaan yang intelektual yang tidak tersentuh oleh yang lain karena ada kecenderuangan orang itu mengimitasi sebuah karya,” ujarnya.


Pemerintah untuk melakukan yustisia legalis memberikan legalitas, seharusnya kalau ini berkeadilan pemerintahlah yang datang menyambut memberikan legalitas kepada mereka dan searching sebuah starup yang berkembang itu bukan kita yang mendaftar.


Seharusnya pemerintah mencari mungkin dengan cara-cara festival atau dengan cara apa, sehingga ditemukan itulah yang harus direkomendasi oleh sebuah pemerintah,” sarannya.


Djoko menjelaskan, bahwa saat bertemu dengan menteri yang baru beberapa waktu lalu, ada beberapa hal yang disampaikan kepada kita. Nanti, kita tidak bisa berpura-pura semuanya akan tercatat digital, oleh karenanya beliau menyarankan pertama, masalah bahasa, bahasa Inggrisnya harus bagus.


“Kedua masalah statistik, karena begitu big data, kita tinggal mengambil data tapi salah mengintrepetasi akan menjadi masalah besar, oleh karenanya pemahaman tentang statistikjuga dipadatkan. Ketiga, psikologis sangat berpengaruh besar, karena semuanya bagaimana cara melihat kita kepada sesuatu, jadi menarasikan sesuatu itu peran psikologi kita yang mengantarkan. Yang terakhir pemahaman kita tentang pemahaman voting, kalau orang paham itu akan lebih cepat untuk membypas pikiran kita untuk sampai voting,” terangnya.


Dr Suning SE MT Ketua Sentra HKI Unipa mengatakan ada 11 Perguruan Tinggi yang mengikuti acara ini. Mereka ingin tahu banyak hal terkait paten dan hak cipta, karena peneliti-peneliti dan pengabdian yang sudah dilakukan oleh para dosen masih banyak sekali yang belum diarahkan kepada paten terutama berbasis komersial.


“Sehingga acara seperti ini harus berkelanjutan untuk kedepannya dengan tahap-tahap berikutnya, misalnya hari ini workshop pengenalan tentang paten, kemudian pendampingan dan seterusnya. Sehingga betul-betul hasil penelitian dari para dosen bisa berbasis KI terutama komersialisasi,” ujarnya.


  • Akademik
  • Humas