Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

Praktik: Rick Currin sedang mencontohkan cara penggunaan Lila Exogen kepada salah satu pelatih 

 

Surabaya-  Universitas PGRI Adi Buana Surabaya menjadi tuan rumah penyelenggarakaan Workshop Lila Exogen yang diikuti puluhan pelatih Puslatda Jawa Timur 100 IV. Lila Exogen merupakan revolusi dalam pelatihan pertahanan yang biasanya dengan beban yang berat (Gim) sekarang diubah dengan beban dari badan sendiri atau dikenal dengan wearable resistance training.

 

Direktur Sporty Science KONI JATIM Prof  Drs Toho Cholik Mutohir  MA PhD mengungkapkan, alat ini sangat membantu atlet ketika latihan karena dipasang di badan dengan beban yang ringan sehingga dia bisa melakukan tugas latihan sambil bergerak. Menurutnya, dengan cara ini teknik, kekuatan, dan kontrol tetap didapat  sehingga ini sangat mudah dan efektif dan bisa dilakukan di mana saja tidak terbatas di Gim.

 

"Worshop ini bertujuan untuk memberikan keterampilan kompetensi kepada pelatih-pelatih Puslatda Jatim dan juga beberapa pelatih dari Unipa Surabaya bahwa transfer kwoledge dan technology bagaimana sebenarnya melaksanakan program latihan dengan menggunakan Lila Exogen dan ini merupan suatu inovasi sehingga perlu dikembangkan lebih lanjut agar kita bisa meningkatkan prestasi atlet kita,"terang Toho.

 

Dia menambahkan, kalau kita menggunakan cara-cara yang tradisional dalam latihan beban atau tahanan dengan beban berat misalnya dengan satu kali angkatan atau dengan beban yang terpaku dengan gerakan sehingga gerakannya tidak luwes maka kita perlu alat seperti Lila Exogen ini untuk meningkatkan latihan.

 

"Materi yang diberikan diworkshop ini terkait teori, pendalaman, pengayaan, dan praktik,"kata Toho. Ini untuk semua cabang olahraga (cabor) karena ini untuk latihan kondisi fisik seperti menambah kecepatan, kekuatan, daya tahan dengan pola gerakan yang bebas sehingga dengan Lila Exogen pelatih bisa memperbaiki gerakan mana yang perlu dikoreksi dan di posisi mana diterapkan.

 

Toho mengatakan, Lila Exogen ini dikembangkan oleh Joe seorang pakar olahraga dari Kanada. Dan kali ini kami menghadirkan tiga narasumber dari Kuala Lumpur yakni Rick Currin,  Eugene Ho,  dan Morissa Kaythri dari Lila Exogen. "Di Indonesia sendiri baru Jawa Timur yang menggunakan program latihan dengan menggunakan Lila Exogen,"tambahnya.

 

Ke depan saya harap Lila dapat menjadi program latihan kondisi fisik yang dapat diaplikasikan, dipelajari, diterima, diteliti oleh perguruan tinggi yang memiliki fakultas ilmu keolahragaan dan bisa diaplikasikan di seluruh club dan cabor olahraga yang mau berupaya meningkatkan prestasi dengan konsep baru ini. Tentunya, Lila bukan langsung sebagai pengganti tetap beban perlu sebagai dasar namun ini akan membantu fungsi gerak.

 

Sementara itu, Rektor Unipa Surabaya Drs Djoko Adi Walujo ST MM DBA mengatakan, pihaknya sangat mendukung dan memfasilitasi kegiatan yang sifatnya untuk menambah wawasan keilmuan. Olahraga juga tidak boleh dipandang dari sisi tertentu karena olahraga banyak manfaatnya tidak hanya gerak tetapi science yang dibangun. Menurut Djoko efek berkelanjutannya adalah membangun kesadaran kepada para dosen atau civitas akademika Unipa Surabaya bahwa olahraga ini penting dalam kehidupan.

 

Wiski Jamus Rubiyanto salah satu peserta dari cabor muathay mengatakan, latihan dengan Lila Exogen memang lebih berat, lebih lambat, dan otot juga lebih rapat. Namun, efeknya sangat bagus pada speed dan power kalau menggunakan cara tradisional kisaran 70-80 persen jika menggunakan Lila Exogen bisa 80-100 persen.  "Nah, kalau soal cidera itu karena penggunaan beban yang berlebihan seharusnya penggunaan disesuaikan dengan berat badan.

 

Tim Lila Exogen dengan segenap pelatih di Gelora Hasta Brata  

 


  • Akademik
  • Humas