Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

Beri materi: Prof Dr Yudi Latif saat memberikan materi di Gelora Hasta Brata Adi Buana

 

Surabaya- Prof Dr Yudi Latif MA PhD Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) mengungkapkan, bahwa universitas harus menjadi substansi pendidikan bukan ornamen pendidikan. Saat ini banyak orang pintar secara kognitif tetapi kapasitas sosial, kemampuan berkolaborasi, empati, dan mampu menempatkan diri dalam situasi orang lain mulai berkurang sehingga hal ini bisa berbahaya sekali bagi bangsa ini. Sabtu, (6/7).

 

Menurutnya, peran universitas sangat penting karena pendidikan tidak hanya belajar soal Fisika, Kimia, dan Matematika saja melainkan juga pendidikan nilai. "Dan inisiatif dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya untuk menggelar Seminar Nasional yang bertajuk "Pemantapan Jati Diri Bangsa Indonesia di Era Milenial" ini sungguh mulia karena ini salah satu usaha menyemai dan menanamkan nilai positif pada generasi muda,"terang Prof Latif.

 

"Setiap lompatan besar dalam sejarah baik di era milenial atau masa lalu ada elemen konstanta,  modal terpenting bagi kemajuan adalah sosial atau persatuan,"tuturnya anggota AIPI ini. Dia menegaskan, demokrasi pembangunan apa pun tidak bisa dijalankan apabila tidak memiliki basis identitas nasional seperti perasaan saling terpaut, terkoneksi, percaya, dan bersaudara.

 

"Oleh karena itu, dalam pengalaman panjang reformasi Indonesia seringkali pembangunan demokrasi kita berhenti di pemilihan langsung saja tapi prasarat-prasarat yang membuat demokrasi itu substantif tidak dipenuhi,"ujarnya. Salah satu prasarat demokrasi bermutu apabila integrasi nasional diperkuat dengan adanya karakter yang baik.   

 

Prof latif mengatakan, teknologi boleh maju masuk era milenial atau digital tapi prasarat karakter ini tidak bisa disepelekan agar tidak mudah dipecah belah. "Bersyukur, kita punya modal sosial  yang diwariskan oleh para pendiri bangsa yakni Pancasila yang hingga saat ini masih menjadi pegangan yang menyatukan bangsa ini,"tandasnya.

 

Sementara itu, Dr Nurul Zuriah MSi Ketua Asosiasi Pendidikan Pacasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3Knl) wilayah Jawa Timur mengatakan,  pihaknya sepakat dengan Prof Latif bahwa kita perlu berbuat untuk bangsa ini menjadi lebih kokoh dan berjaya dengan mengembalikan pada jati diri bangsa. "Di era milenial model dan metode harus di update sesuai eranya sehingga generasi muda akan mudah memahami apa yang yang menjadi milik bangsa ini,"kata Nurul.  

 

Nanda Indri Yunaini mahasiswa PPKn Unipa mengatakan, persoalan terbesar di bangsa Indonesia saat ini adalah belum ditanamkannya secara menyeluruh dan mendalam tentang nilai-nilai pancasila dan tentang kakater.

 

 


  • Akademik
  • Humas