Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

Foto bersama: (dari kiri ke kanan) Dr Untung Lasiono MSi Wakil Rektor II Unipa, Dr Hartono MSi Wakil Rektor I Unipa, Drs Pungut Asmoro ST MT Wakil Rektor III Unipa,  Dr Widyo Winarso MPd Sekretaris LL-DIKTI, Prof Dr Rudolf Woodrow Matindas ( Universitas Indonesia ), dan Drs Widodo MKom Kepala LHIHP Unipa foto bersama usai pembukaan PP-OPPEK

 

Surabaya- Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-Dikti) Wilayah VII bekerjasana dengan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dalam menyelenggarakan Pelatihan Pemandu Orientasi Pengembangan Pendamping Kemahasiswaan (PP-OPPEK) Angkatan II. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 24-26 Pebruari di Hotel Singgasana Surabaya.

 

Acara yang diikuti 47 peserta ini dibuka oleh Dr Widyo Winarso MPd Sekretaris LL-Dikti Wilayah VII.  Para peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari 25 Perguruan Tinggi di Jawa Timur,  antara lain Universitas PGRI Yogyakarta, Universitas PGRI Madiun, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Adi Buana Surabaya, dll. 

 

Kegiatan dengan tema "Menyiapkan Pendamping Kemahasiswaan yang Handal di Era Revolusi Industri 4.0" ini menghadirkan narasumber dan pemandu yang berkompeten dibidangnya,  yakni Dr Widyo Winarso MPd, Prof Dr Rudolf Woodrow Matindas dan Indrajaya Gerianto Ir MSc.

 

Selama tiga hari para peserta akan belajar materi terkait ruang lingkup bidang pembinaan kemahasiswaan,  yang meliputi; Kebijakan Program dan Kegiatan Kemahasiswaan (Polbangmawa, Ormawa,  Pemeringkatan, Singkatmawa),  Praktik Baik Pengembangan Kemahasiswaan di PT, Konsep OPPEK dan LKMM, Dinamika Tantangan Dunia Kemahasiswaan,  Idrntifikasi Masalah Kemahasiswaan,  Persepsi,  Gaya Kerja,  Negosiasi,  Konsep Kepemanduan, dsb. 

 

Peserta PP-OPPEK sedang melakukan diskusi materi bersama kelompok

Drs Pungut Asmoro ST MT mengatakan, kegiatan ini untuk membantu dosen pendamping kemahasiswaan dalam memahami tugas dan fungsinya untuk meningkatkan prestasi.

 

"Di perguruan tinggi selain memberi kopetensi akademik kepada mahasiswa juga membekali kompetisi sofkill kepada mahasiswa lebih-lebih jaman sekarang kurikulumnya kan KKNI dan mereka lulus harus menggondol surat keterangan pendamping ijasah (SKPI), yang isinya kompetensi-kompetensi yang diperoleh oleh mahasiswa selama study," ujarnya.

 

Sofskillnya ini yang diperoleh dari luar bangku perkuliahan alias ekstra dan ko kulikuler yang di berikan oleh dosen. Oleh karenanya dosen- dosen perlu di beri bekal untuk membimbing, membina dan mendampingi mahasiswa memperoleh sofskill dan karakter sebaik-baiknya. Oleh karenanya pelatihan seperti ini sangat diperlukan.

 

Prof Dr Rudolf Woodrow Matindas saat memaparkan materi kepada para peserta

 

 Prof Dr Rudolf Woodrow Matindas mengatakan, Pemahaman tentang mahasiswa, sebab secara pesikologi ada rentang usia yang mempunyai karateristik tertentu.setiap tahap perkembangan anak ada modus-modus tingkah laku.

 

"Kegiatan ini dilakukan dengan metoda belajar bukan dari ceramah tapi mereka diminta melakukan kegiatan lalu kegiatan itu dibahas dan apa yang dapat disimpulkan dari itu," ujarnya.

 

Rudolf mencontohkan, mengawali dengan kegiatan perkenalan, mereka diminta untuk perkenalkan dengan peserta yang lain sesudah itu dibicarakan siapa saja yang berasil diingat, apa bedanya orang yang diingat dengan orang yang tidak bisa diinget. Coba kalau itu dikaitkan dengan tempat pengajaran, kalau kamu ngajar berapa persen yang bisa diingat.

 

"Pelajaran seperti apa kalau disampaikan mahasiswanya tertarik, disini diajarkan real dari kasus-kasus pengalaman, bagaimana membuat sebuah kesimpulan yang tidak tergesa-gesa, kita perlu mempertimbangkan beberapa hal, itulah berfikir kritis," ungkapnya

 

Rektor Unipa Drs Djoko Adi Waludjo ST MM DBA (tengah) foto bersama para peserta PP-OPPEK usai pelatihan

 

Lima peserta terbaik PP-OPPEK Angkatan II

 


  • Akademik
  • Humas