Secondary Nav

Menu

Pendidikan

Mendiknas Jerman Annette Schavan (berbaju merah) bersama Kanselir Jerman Angela Merkel. (Foto: Reuters)

JERMAN - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Jerman Annette Schavan mengundurkan diri dari jabatannya menyusul pencopotan gelar doktor Schavan akibat tindak plagiat. Johanna Wanka, pejabat pada kementerian pendidikan dan kebudayaan Jerman, telah ditunjuk untuk menggantikan Schavan. 

Duesseldorf's Heinrich Heine University memutuskan mencabut gelar doktor milik Schavan sebagai hasil review atas tuduhan plagiat yang dialamatkan kepada Schavan. Sekutu terdekat Kanselir Jerman Angela Merkel ini bersikeras bahwa dia akan berjuang melawan peraturan perguruan tinggi. 

Surat kabar terbesar Jerman, Bild, melansir bahwa Schavan terbukti melakukan tindak plagiat. Selain itu, Schavan juga ternyata memiliki rekening rahasia di sebuah bank di Swiss, dan kedapatan menyetir sambil mengonsumsi alkohol.  

Selain Schavan, pada 2011, Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg juga berhenti dari pekerjaannya setelah mendapat tuduhan plagiat pada disertasinya. Aksi Guttenberg ini pun membuat masyarakat Jerman menjulukinya "Dr Cut-and-Paste" dan "Dr zu Googleberg".

Kasus-kasus plagiat muncul di Jerman di antaranya karena obsesi Jerman pada titel akademik. Politisi Jerman menganggap serius obsesi ini, dan melihatnya sebagai cara mendapatkan kehormatan intelektual. Di Jerman, tidaklah aneh jika seorang profesor yang memiliki dua gelar doktor dalam bidang berbeda meminta dipanggil "Profesor, Doktor, Doktor". 

Seperti dilansir BBC, Senin (11/2/2013), pengunduran diri Schavan dimulai dengan sapaan akrab, "Dear, Angela," kepada Kanselir Jerman Angela Merkel. Wanita 57 tahun itu mengawali surat tersebut dengan ucapan terima kasih atas persahabatan mereka selama ini. 

"Saya rasa hari ini adalah saat yang tepat bagi saya untuk mengundurkan diri dari jabatan kementerian saya dan untuk berkonsentrasi pada tugas-tugas saya sebagai anggota parlemen. Saya tidak akan menerima keputusan universitas dan akan mengambil langkah hukum. Saya tidak pernah melakukan plagiat. Tuduhan ini memukul saya sangat keras," tulisnya.   

Schavan mengimbuh, prioritas utamanya adalah melindungi departemen tempatnya bekerja dan pemerintah. "Pertama, bangsa ini, kemudian partai, dan barulah saya sendiri," ujar Schavan, yang mengutip ucapan mantan Perdana Menteri Jerman Erwin Teufel.

Schavan mengaku ingin menghindari tekanan pada kantornya, kementerian, dan partainya yakni Demokrat Kristiani, jika memutuskan menuntut University of Dusseldorf. 

Kampus ini memutuskan untuk menelaah kembali disertasi Schavan pada 1980 setelah blogger anonim mempertanyakan makalah tersebut.  Komite Fakultas menemukan bahwa Schavan telah "secara sistematis dan sengaja" mengopi sebagian disertasinya, "Person and Consience". 

Pada sebuah pernyataan tentang kesalahan pemberian gelar doktor kepada Schavan, Pimpinan Fakultas Bruno Bleckmann menyatakan, pihak kampus telah 
memutuskan untuk mencabut gelar doktor Schavan dalam sebuah pemungutan suara tertutup. 

Schavan sendiri bersuara keras ketika skandal plagiat menimpa koleganya, mantan Menteri Pertahanan Jerman Karl-Theodor zu Guttenberg . "Sebagai seseorang yang menerima gelar doktor 31 tahun lalu dan telah membimbing banyak kandidat doktor, saya sangat malu dan tidak dapat menerima skandal ini," ujar Schavan kepada media Sueddeutsche Zeitung ketika itu. 

Analis politik menilai, pengunduran diri Schavan akan menjadi kejadian yang sangat memalukan bagi Kanselir Jerman Angela Merkel. Jika sesuai jadwal, Merkel akan mengahadapi pemilihan umum pada 22 September mendatang. Merkel mengaku, menerima pengunduran diri Schavan "dengan berat hati."(rfa)


original link : klik disini


  • Akademik
  • Humas