Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

WAKIL GUBERNUR: Gus Ipul Wakil Gubernur Jatim didampingi H. Sutijono Rektor Unipa Surabaya(tengah), Pungut Asmara Warek III (depan kiri)dan Widodo Warek IV (depan kanan) usai acara talk show.

 

SURABAYA- Unipa Surabaya kembali menunjukkan eksistensinya dalam pendidikan, melalui acara seminar nasional yang bertajuk "talk show"yang digelar oleh himpunan mahasiswa Prodi Bahasa Inggris atau ESU(English Students Union) periode 2014-2015. Pekan raya ke-7 ini menjadi agenda rutin setiap tahunnya dan kali ini spesial karena bertepatan dengan dies natalis Unipa Surabaya ke-44 tahun. Acara ini dihadiri sekitar 550 peserta dari dalam dan luar Unipa sendiri sehingga mampu memenuhi lantai 5 Gedung Pascasarjana Unipa Surabaya. Tema yang diusung kali ini adalah “The next generation of Ki Hajar Dewantara commit and dedicate to do one action for education”. Tema ini diusung sehubungan dengan tanggal 2 Mei yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional sekaligus hari lahirnya sang pelopor pendidikan. Minggu, (10/5).

Pembukaan acara oleh Rektor Unipa Surabaya H. Sutijono, Beliau menghimbau bahwa regenerasi Ki Hajar Dewantara perlu dibekali dengan nilai-nilai luhur yang digagasnya  seperti salah satu dalam karya monumentalnya yang dikenal dengan 3N (Niteni, Nirokke, dan Nambahi).  Hal itu sejalan  dengan visi universitas. Selain itu, semboyan Ki Hajar Dewantara perlu diingat dan dilestarikan karena ini termasuk kearifan lokal dan kekayaan lokal yang patut dijaga, “tambah H. Sutijono.

Acara ini sekaligus moment istimewa karena bertepatan dengan Hari Jadi Rektor Unipa Surabaya H. Sutijono ke-68 yang dirayakan oleh semua peserta maupun tamu undangan. Dalam moment tersebut juga hadir Gus Ipul Wakil Gubernur Jawa Timur. Kedatangan Beliau tidak serta merta dengan tangan kosong tetapi ada tiga hal yang dititipkan dan patut dijadikan pegangan untuk generasi mendatang yaitu, intelektual happiness, spiritual happiness, dan fisikal happiness yang harus dijalankan dengan seimbang agar bisa menjadi generasi yang mampu menjadi tumpuan. H. Sutijono juga mengatakan generasi yang akan datang harus bisa menulis dan mengikuti kiprah Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan dan supaya mahasiswa menyiakan diri untuk menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Ke depan tantangan semakin sulit maka harus membekali diri dengan pengetahuan yang memadai.

Ahmad Efendi waka pelaksana angkatan 2012 mengungkapkan bahwa acara ini termasuk ke dalam rangkaian English fair ke-7 yang notabene terdiri atas 4 acara. Pertama, voice jockey (tingkat SMA se-Jatim), kedua  debat internal (mahasiswa bahasa Inggris angkatan 2013-2014), ketiga talk show, dan secreton the stage (tampilan kebudayaan) menjadi agenda keempat sebagai penutupnya.

Pada talk show kali ini Djoko AW yang berperan sebagai moderator yang bertugas mengatur jalannya diskusi. Ada empat pembicara yaitu, Hadi Wiyono (Pengawas Pend. Prov. Jatim), Ikhwan Sumadi (Ketua PGRI Prov. Jatim), dan Iza Ansori (Dewan Pend. Prov. Jatim). Sayangnya, Tri Risma Harini Walikota Surabaya yang menjadi tamu kehormatan berhalangan hadir. Namun, Gus Ipul (Wakil Gubernur Jatim) mampu mengobati kekecewaan peserta. “Terang, Enggik Ketua Pelaksana Acara.

Sementara itu, Dalam sesi tanya jawab mahasiswa juga sangat antusias bertanya tentang persoalan pendidikan yang nyatanya para mahasiswa masih galau dengan peraturan pemerintah mengenai PPG (Pendidikan Profesi Guru) yang harus menempuh kuliah lagi. Pertanyaan tersebut ditanggapilangsung oleh Ketua PGRI Jatim Ikhwan Sumadi bahwa masih diusulkan ada PPG terintegrasi dan PGRI akan terus mengupayakan yang terbaik bagi para guru. (rohma)


  • Akademik
  • Humas