Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

SENYUM SEMANGAT: Dari kiri ke kanan Sumiati (direktur kebidanan), Dr. Metria S., Dr. Setya Wandari dan Catherin (dosen kebidanan Unipa Surabaya).

 

SURABAYA- Seminar nasional yang digelar oleh Program Studi Kebidanan Unipa Surabaya tersebut  dilakukan dalam rangka turut berpartisipasi dalam hari jadi Universitas PGRI Adi buana (Unipa) Surabaya ke 43 sekaligus merupakan realisasi dari program Hima Prodi Kebidanan yang setiap tahun menjadi agenda wajib bagi mahasiswa tingkat akhir. Hal itu dimaksudkan agar dapat menambah wawasan,   pengetahuan dan paham akan mengeksekusi suatu kegiatan khususnya kegiatan ilmiah. Hal ini sangat penting ketika sudah terjun dilapangan sehingga memunculkan rasa percaya diri. Hal tersebut diungkapkan oleh Sumiati Direktur Kebidanan Unipa Surabaya kemarin selepas acara. (21/6)

 Dalam seminar ini dikuti sekitar 300 peserta. Selain dari mahasiswa kebinanan Unipa Surabaya juga para dosen maupun mahasiswa dari beberapa institusi pendidikan bidan di Surabaya dan sekitarnya. Selain itu, turut serta alumni yang dari Jawa dan luar Jawa.

Sumiati Direktur Kebidanan Unipa menjelaskan, tentang tema yang diangkat mengapa berhubungan dengan MDG’S. MDG’S tersebut singkatan dari Milenium Developmen Ghose yaitu program pemerintah mengenai tingkat kesehatan masyarakat. Karena bidan merupakan profesi yang terkait dengan legal aspek hukum sebagai antisipasi adanya tuntutan masyarakat. Untuk itu, kita mengundang pakarnya dari Jakarta. Dia bergerak di bidang kesehatan khususnya mendalami hukum kesehatan. Pakar tersebut adalah Gerardus Gerardus Gegen  seorang perawat yang mendalami ilmu hukum dan berprofesi sebagai konsultan kesehatan dan pengacara. Apa yang disampaikannya menjadikan motivasi bagi peserta bahwa harus melek hukum.

Beragam materi yang disampaikan oleh para narasumber singkatnya, Jeni Sondak seorang master klinikel atau bidan berpengalaman di dalam maupun luar negeri menyampaikan tentang pemberdayaan kesehatan perempuan melalui asuhan persalinan dan bayi baru lahir yang diikuti dengan live demo bagaimana persalinan yang benar. Hal ini sangat menarik perhatian peserta seminar. Sumiati direktur kebidanan menyatakan tentang bahaya wanita perokok. Wanita perokok memiliki resiko terjadinya infertilitas baik perokok pasif maupun aktif. Hal ini sudah diteliti melalui hewan coba. Objeknya menggunakan tikus putih betina dewasa dengan kriteria yang sudah ditentukan. Tema ini diambil sebagai upaya mengingatkan masyarakat bahaya merokok yang dapat merusak  reproduksinya. Dokter Mitria S. juga menyatakan hasil penelitiannya terkait bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah atau yang dikenal dengan BBLR. Untuk mengurangi resiko tersebut ada tips yang disampaikan yaitu agar selalu menjaga keseimbangan mulai makanan yang cukup dan bergizi dan olahraga. Sedangkan Setya wandari dosen kebidanan menuturkan tentang  pijak oksitusin dapat berpengaruh pada produksi asi. Apa yang sudah disampaikan adalah bekal dan mau tidak mau nantinya harus dilakukan oleh para bidan. Tegas Sumiati.

Kebidanan sudah mulai tumbuh dan berkembang apa yang dicita-citakan sebentar lagi akan terwujud yaitu berdirinya poliklinik Unipa Surabaya yang akan menjadi tempat praktik dasar bagi mahasiswa sekaligus tempat untuk belajar mengabdi pada masyarakat. Tentunya, hal ini sangatlah menjadi prioritas karena perbandingan antara teori dan praktik itu berbeda. Jika dinilai untuk teori 40% dan praktik 60%. Untuk itu, berbagai upaya telah kami laksanakan untuk meningkatkan kompetensi dan skill mahasiswa. “Terang Sumiati. (*ma)


  • Akademik
  • Humas