Secondary Nav

Menu

Berita Kampus

TABUR BUNGA: Rektor Unipa Surabaya H. Sutijono menaburkan bunga di atas makam pendiri Unipa Masini Atmadji di desa Jati Kapur Nganjuk.

 

NGANJUK- Tiada terasa Unipa Surabaya kini sudah berumur 43 tahun. Hal ini, bukanlah waktu yang singkat. Sejarah pendidikan sudah terajut dalam dinamika bangsa ini. Seiring dengan berjalannya waktu terbukalah tabir perjuangan di masa silam yang sudah dilakukan oleh para pendiri Unipa Surabaya. Jalan panjang yang sudah dilalui merupakan bukti dari eksistensi Unipa Surabaya di masa kini. Rasa syukur, bisa berkumpul dengan keluarga besar Unipa Surabaya dalam agenda rutin yang dilaksanakan setiap diesnatalis Unipa dengan melakukakan kegiatan ziarah ke makam para pendiri Unipa yang sudah tiada. Hal itu, diungkapkan H. Sutijono Rektor Unipa Surabaya di area makam Masini Atmadji Jati Kapur Nganjuk, (18/5).

Menurut beliau, ziarah makam ini dilakukan untuk menjaga nilai luhur para pejuang Unipa Surabaya sekaligus mengenalkan lebih dekat kepada para generasi penerus Unipa Surabaya supaya tidak melupakan jasa-jasa para pendiri di masa lalu. Selain itu, ide-ide yang telah digagas akan tetap menjadi inspirasi disetiap langkah Unipa dimasa depan.”Terang H. Sutijono.

H. Sutijono menambahkan, bapak Masini Admadji merupakan seorang yang sangat kental dengan filosof Jawanya, seperti, Ojo sampek kepleset ing dalan kang reroto, sing cedak di reketno sing adoh  di awe. Hal ini, merupakan wujud kepedulian beliau agar Unipa tetap menjadi satu kesatuan. 20 Mei 1971 harus tetap diingat sebagai awal berdirinya Unipa Surabaya.

“Unipa sendiri, lahir dari pemikiran-pemikiran, perhatian, usaha, dari seluruh pendiri dan keluar besarnya. Oleh karena itu, patutlah memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para perintis, pendiri, dan orang-orang yang sudah berjasa di dalamnya. Dalam dienatalis ke 43 tahun ini sudah selayaknya Unipa Surabaya tumbuh dewasa. “Terang Widodo Warek IV Unipa Surabaya.

                Ziarah pendiri ini nantinya, akan dilakukan di tiga tempat. Hari pertama di Nganjuk Jati Kapur makam Masini Admadji. Dan pada hari kedua Malang dan  Surabaya. Untuk Malang dimakam Abdul Rajab, dan Surabaya Soelaiman Joesoef. “ Terang Iskandar Ketua PPLP PT PGRI Surabaya. (rohma)


  • Akademik
  • Humas